Makalah
Pre dan Post Operasi
Illeustomy

Disusun
Oleh:
Ratna Budi Sari (14026)
AKADEMI
KEPERAWATAN HARUM JAKARTA
TAHUN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Definisi
Ileus
adalah sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk
penyumbatan usus. Dalam penyumbatan ini, isi usus tidak dapat bergerak karena
usus tertutup. (Wikipedia Bahasa Indonesia)
Ileus adalah suatu kondisi
hipomotilitas (kelumpuhan) saluran gastrointestinal tanpa disertai adanya
Asuhan Keperawatan Pada obstruksi
mekanik pada intestinal. Pada kondisi klinik sering disebut dengan Ileus
paralitik (Mansjoer, 2011).
Ileus
adalah suatu kondisi hipomotilitas (kelumpuhan) saluran gastrointestinal tanpa
disertai adanya obstruksi mekanik pada intestinal. Pada kondisi klinik sering
disebut dengan ileus paralitik. Perawat sangat perlu melakukan pemantauan pada
pasien pascabedah abdominal dari kondisi ileus. Setelah 2-3 hari
pasca-pembedahan abdomen, ileus merupakan suatu kondisi fisiologis yang normal
sekunder dari anestesia dan efek intervensi bedah. Namun, istilah ileus kondisi
kelumpuhan intestinal dapat bertahan lebih dari 3 hari pascabedah.
Sebagaian
besar kasus ileus terjadi setelah operasi intra-abdomen. Kembali normalnya
aktivitas usus setelah pembedahan abdominal mengikutipola yang yang dapat
diprediksi. Usus kecil biasanya mendapatkan kembali funsi dalam beberapa jam.
Aktivitas regains lambung dalam 1-2 hari dan usus besar aktivitas regains 3-5
hari (Person, 2006).
Obstruksi usus adalah sumbatan total
atau parsial yang mencegah aliran normal melalui saluran pencernaan. (Brunner
& Suddarth, 2002).
Ileus obstruktif adalah hambatan
pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik misalnya oleh
strangulasi, invaginasi, atau sumbatan di dalam lumen usus. (Sjamsuhidayat,
2005).
Ileus
obstruktif adalah blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus, dan
makanan, dapat secara mekanis atau fungsional (Iin Inayah, 2004 : 202).
Ileus Paralitik adalah hilangnya peristaltic usus
sementara.
Ileus paralitik adalah obstruksi yang terjadi karena
suplai saraf otonom mengalami paralysis dan peristaltic usus terhenti sehingga
tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contoh nya amiloidosis, distropi
otot, gangguan endokrin seperti diabetes melitus atau gangguan neurologis
seperti penyakit Parkinson.
Ileus Paralitik adalah keadaan abdomen akut berupa
kembung distensi usus karena usus tidak bergerak (mengalami motilitas), pasien
tidak dapat buang air besar.
Pengertian
diatas dapat disimpulkan bahwa ileus obstruktif adalah penyumbatan yang terjadi
secara parsial atau komplit, mekanik atau fungsional, yang terjadi bisa diusus
halus ataupun diusus besar, dapat mengakibatkan terhambatnya pasase cairan, flatus,
dan makanan.
B.
Etiologi
Walaupun predisiposisi
ileus biasanya terjadi akibat pascabedah abdomen, tetapi ada faktor
predisposisi lain yang mendukung peningkatan risiko terjadinya ileus, di
antaranya (Behm, 2003) sebagai berikut.
1. Sepsis
2. Obat-obatan
(misalnya: opioid, antasid,coumarin, amitriptyline, chlorpromazine).
3. Gangguan
elektrolit dan metabolik (misalnya hipokalemia, hipomagnesemia, hipernatremia,
anemia, atau hiposmolalitas).
4. Infark
miokard
5. Pneumonia
6. Trauma
(misalnya: patah tulang iga, cedera spina).
7. Bilier
dan ginjal kolik.
8. Cedera
kepala dan prosedur bedah saraf.
9. Inflamasi
intraabdomen dan peritonitis.
10.
Hematoma retroperitonel.
C.
Patofisiologi
Obstruksi ileus
merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya daya
mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga menyebabkan
penyempitan/penyumbatan lumen usus. Hal tersebut menyebabkan pasase lumen usus
terganggu. Akan terjadi pengumpulan isi lumen usus yang berupa gas dan cairan,
pada bagian proximal tempat penyumbatan, yang menyebabkan pelebaran dinding
usus (distensi). Sumbatan usus dan distensi usus menyebabkan rangsangan
terjadinya hipersekresi kelenjar pencernaan.
Dengan demikian akumulasi cairan dan gas makin bertambah yang menyebabkan distensi usus tidak hanya pada tempat sumbatan tetapi juga dapat mengenai seluruh panjang usus sebelah proximal sumbatan. Sumbatan ini menyebabkan gerakan usus yang meningkat (hiperperistaltik) sebagai usaha alamiah. Sebaliknya juga terjadi gerakan antiperistaltik. Hal ini menyebabkan terjadi serangan kolik abdomen dan muntah-muntah. Pada obstruksi usus yang lanjut, peristaltik sudah hilang oleh karena dinding usus kehilangan daya kontraksinya.
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obtruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utamanya pada obstruksi paralitik dimana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dana gas (70 % dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intra lumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen usus ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan disekresi kedalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorbsi dapat mengakibatkan penimbunan intra lumen yang cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan cairan dan elektrolit adalah penciutan ruang cairan ekstra sel yang mengakibatkan hemokonsentrasi, hipovolemia, insufisiensi ginjal, syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik dan kematian bila tidak dikoreksi.
Peregangan usus yang terus menerus menyebabkan lingkaran setan penurunan absorbsi cairan dan peningkatan sekresi cairan kedalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorbsi toksin-toksin/bakteri kedalam rongga peritonium dan sirkulasi sistemik.
Pengaruh sistemik dari distensi yang mencolok adalah elevasi diafragma dengan akibat terbatasnya ventilasi dan berikutnya timbul atelektasis. Aliran balik vena melalui vena kava inferior juga dapat terganggu. Segera setelah terjadinya gangguan aliran balik vena yang nyata, usus menjadi sangat terbendung, dan darah mulai menyusup kedalam lumen usus. Darah yang hilang dapat mencapai kadar yang cukup berarti bila segmen usus yang terlibat cukup panjang.
Dengan demikian akumulasi cairan dan gas makin bertambah yang menyebabkan distensi usus tidak hanya pada tempat sumbatan tetapi juga dapat mengenai seluruh panjang usus sebelah proximal sumbatan. Sumbatan ini menyebabkan gerakan usus yang meningkat (hiperperistaltik) sebagai usaha alamiah. Sebaliknya juga terjadi gerakan antiperistaltik. Hal ini menyebabkan terjadi serangan kolik abdomen dan muntah-muntah. Pada obstruksi usus yang lanjut, peristaltik sudah hilang oleh karena dinding usus kehilangan daya kontraksinya.
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obtruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utamanya pada obstruksi paralitik dimana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dana gas (70 % dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intra lumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen usus ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan disekresi kedalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorbsi dapat mengakibatkan penimbunan intra lumen yang cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan cairan dan elektrolit adalah penciutan ruang cairan ekstra sel yang mengakibatkan hemokonsentrasi, hipovolemia, insufisiensi ginjal, syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik dan kematian bila tidak dikoreksi.
Peregangan usus yang terus menerus menyebabkan lingkaran setan penurunan absorbsi cairan dan peningkatan sekresi cairan kedalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorbsi toksin-toksin/bakteri kedalam rongga peritonium dan sirkulasi sistemik.
Pengaruh sistemik dari distensi yang mencolok adalah elevasi diafragma dengan akibat terbatasnya ventilasi dan berikutnya timbul atelektasis. Aliran balik vena melalui vena kava inferior juga dapat terganggu. Segera setelah terjadinya gangguan aliran balik vena yang nyata, usus menjadi sangat terbendung, dan darah mulai menyusup kedalam lumen usus. Darah yang hilang dapat mencapai kadar yang cukup berarti bila segmen usus yang terlibat cukup panjang.
D.
Klasifikasi
1. Neurogenik/fungsional (Ileus
Paralitik)
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami
paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi
sepanjang usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti
diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit parkinson.
2. Mekanis (Ileus Obstruktif)
Suatu
penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus
obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat
karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma
stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses
a. Obstruksi Sederhana
pada
obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang
jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri abdomen
bervariasi dan sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian
atas. Obstruksi bagian tengah atau distal
menyebabkan kejang di daerah periumbilikal atau nyeri yang sulit dijelaskan
lokasinya. Kejang hilang timbul dengan adanya fase bebas keluhan. Muntah akan
timbul kemudian, waktunya bervariasi tergantung letak sumbatan. Semakin distal
sumbatan, maka muntah yang dihasilkan semakain fekulen. Obstipasi selalu
terjadi terutama pada obstruksi komplit. Pada pemeriksaan radiologist, dengan posisi tegak dan
telentang dan lateral dekubitus menunjukkan gambaran anaka tangga dari usus
kecil yang mengalami dilatasi dengan air-fluis level. Pemberian kontras akan
menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan letaknya.
b.
Obstruksi disertai proses strangulasi
kira-kira
sepertiga obstruksi dengan strangulasi tidak diperkirakan sebelum dilakukan
operasi. Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai
dengan nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas
operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi maka diperlukan
tindakan operasi segera untuk mencegah terjadiny
E.
Manifestasi
Klinis
Susan
Martin Tucker (1998), Christian Stone, M.D (2004) dan Barbara C Long (1996)
menemukan bahwa tanda dan gejala dari ileus obstruktif adalah :
1.
Obstruksi Usus Halus
Gejala
awal biasanya berupa nyeri abdomen bagian tengah seperti kram yang cenderung
bertambah berat sejalan dengan beratnya obstruksi dan bersifat hilang timbul.
Pasien dapat mengeluarkan darah dan mukus, tetapi bukan materi fekal dan tidak
terdapat flatus.
Pada
obstruksi komplet, gelombang peristaltik pada awalnya menjadi sangat keras dan
akhirnya berbalik arah dan isi usus terdorong kedepan mulut. Apabila obstruksi
terjadi pada ileum maka muntah fekal dapat terjadi. Semakin kebawah obstruksi
di area gastriuntestinalyang terjadi, semakin jelas adaanya distensi abdomen.
Jika berlaanjut terus dan tidak diatasi maka akan terjadi syok hipovolemia
akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.
a.
Mual
b.
Muntah, pada awal mengandung makanan tak
dicerna,selanjutnya muntah air dan mengandung empedu, hitam dan fekal.
c.
Nyeri seperti kram pada perut, disertai
kembung, nyerinya bisa berat dan menetap.
d.
Demam
sering terjadi, terutama bila dinding usus mengalami perforasi. Perforasi
dengan cepat dapat menyebabkan perdangan
dan infeksi yang berat serta menyebabkan syok.
e.
Obstipasi dapat terjadi terutama pada obstrusi
komplit.
f.
Abdominal distention
g.
Tidak adanya flatus
2.
Obstruksi Usus Besar
Nyeri
perut yang bersifat kolik dalam kualitas yang sama dengan obstruksi pada usus
halus tetapi intensitasnya jauh lebih rendah. Muntah muncul terakhir terutama
bila katup ileosekal kompeten. Pada pasien dengan obstruksi disigmoid dan
rectum, konstipasi dapat menjadi gejala satu-satunya selama beberapa hari.
Akhirnya abdomen menjadi sangat distensi, loop dari usus besar menjadi dapat
dilihat dari luar melalui dinding abdomen, dan pasien menderita kram akibat
nyeri abdomen bawah. Dengan
melihat patogenesis yang terjadi, maka gambaran klinik yang dapat ditimbulkan
sebagai akibat obstruksi usus dapat bersifat sistemik dan serangan yang
bersifat kolik.
a.
Distensi berat
b.
Nyeri biasanya terasa didaerah epigastrium,
nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkan adanya iskemi atau peritonitis.
c.
Konstipasi dan obstipasi adalah gambaran umum
obstruksi komplet
d.
Muntah fekal laten
e.
Dehidrasi laten
f.
Penyumbatan total menyebabkan sembelit yang
parah, sementara penyumbatan sebagian menyebabkan diare.
Manifestasi Klinik
Laparatomi:
1.
Nyeri tekan
2.
Perubahan tekanan darah, nadi dan pernafasan
3.
Kelemahan
4.
Gangguan integumuen dan jaringan subkutan
5.
Konstipasi
6.
Mual dan muntah, anoreksia
Pada obstruksi usus
dengan strangulasi, terjadi keadaan gangguan pendarahan dinding usus yang
menyebabkan nekrosis atau gangguan dinding usus. Bahaya umum dari keadaan ini
adalah sepsis atau toxinemia.
F.
Komplikasi
1. Peritonitis
karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada
intra abdomen.
2. Perforasi
dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ intra abdomen.
3. Sepsis,
infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.
4. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan
kehilangan volume plasma.
(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122)
(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122)
G.
Pemeriksaan Dignostik
1. Rontgen toraks: diafragma meninggi
akibat distensi abdomen.
2. Rontgen abdomen dalam posisi
telentang: mencari penyebab (batu empedu, volvulus, hernia).
3. Pemeriksaan sinar x: Untuk
menunjukan kuantitas abnormal dari gas atau cairan dalam usus.
4. Pemeriksaan laboratorium (misalnya
pemeriksaan elektrolit dan jumlah darah lengkap) akan menunjukan gambaran
dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan infeksi.
5. Pemeriksaan radiogram abdomen sangat
penting untuk menegakkan diagnosa obstruksi usus. (Doengoes, 2000)
H.
Penatalaksanaan Medis
1 Konservatif
Sebagian besar kasus
ileus pascabedah mendapat intervensi konservatif.Pasien harus menerima hidrasi
intervena. Untuk pasien dengan muntah dan distens, penggunaan selang
nasogastrik diberikan untuk menurunkan gejala, namun belum ada penelitian dalam
literatur yang mendukung penggunaan selang nasogastrik untuk memfasilitasi resolusi ileus. Panjang
selang ke saluran gastrointestinal tidak
memiliki manfaat atas perbaikan ileus. Untuk pasien dengan ileus
berlarut-larut, obstruksi mekanis harus diperiksa dengan studi kontras.Sepsis
dan gangguan elektrolit yang mendasari, terauma hipokalemia, hiponatremia, dan
hipomagnesmia, dapat memperburuk ileus.Kondisi ini didiagnosis dan diperbaiki
(Mukherjee, 2008).
Cara lainnya adalah
menghentikan obat yang memproduksi ileus (misalnya: opiat). Dalam suatu stud,
jumlah morfin yang diberikan secara langsung akan berhubungan dengan terjadinya
ileus (cali, 2000).
Penggunaan narkotika
pascaoperasi dapat dikurangi dengan suplemen dengan obat anti-inflamasi
non-steroid (OAINS).OAINS dapat menurunkan ileus dengan menurunkan peradangan
lokal dan dengan mengurangi jumlah narkotika yang digunakan.Studi mioelektrik
dari elektroda ditempatkan pada usus besar, di mana studi ini telah
mengungkapkan resolusi lebih cepat dari yang diberikan pada pasien ileus versus
yang diberikan ketorolac morfin, namun kelemahan OAINS digunakan mencangkup
disfungsi trombosit dan ulserasi mukosa lambung.Kondisi ini dapat
dipertimbangkan dengan penggunaan agen cyclooxygenase-2, untuk menurunkan efek
samping ini (Ferraz, 1995).
Samping saat ini belum
ada suatu variabel yang secara akurat memprediksi resolusi ileus. Pemeriksaan kondisi klinis
masih menjadi parameter penting untuk mengevaluasi asupan oral dan fungsi usus
yang baik.Laporan dari pasien bahwa
sudah terjadi flatus, harus dinilai ulang dengan saksama secara pemeriksaan
fisik dan diagnostik yang akurat, serta tidak boleh hanya mengandalkan dari
laporan pasien (Mukherjee, 2008).
2 Terapi
diet
Umumnya, menunda intake
makan oral sampai tanda klinis ileus berakhir.Namun, kondisi ileus tidak mengalangi
pemberian nutrisi enteral. Pemberian enteral secara hati-hati dan dilakukan
secara bertahap (Ng WQ,2003). Pada suatu studi pemberian permen karet
menunjukkan bahwa mengunyah perman karet sebagai bentuk pemberian makanan palsu
pada fase pemulihan awal dari ileus pascabedah setelah laparoskopi
colectomy.Sembilan belas pasien yang menjalani elektif laparoskopi colectomy
secara acak.Sepuluh pasien yang ditetapkan kegrub permen karet dan sembilan
untuk kelompok kontrol. Kelompok permen karet
yang digunakan tiga kali sehari dari pascaoperasi pertama pagi sampai
intake oral. Terjadinya flatus lebih cepat dalam kelompok permen karet dari
pada di kelompok kontrol buang air besar pertama tercatat pada 3.1 hari dalam
kelompok permen karet versus 5,8 hari pada kelompok kontrol (Asao, 2002)
3
Terapi aktivitas
Kebijakan konvensional
pada praktik klinik memberikan pemahaman bahwa ambulasi dini merangsang fungsi
usus dan meningkatkan ileus pascabedah, meskipun hal ini belum ditunjukkan
dalam literatur.
Dalam sebuah studi
nonrandomized mengevaluasi 34 pasien, elektroda bipolar seromuscular
ditempatkan disegmen saluran gastrointestinal setelah laporotomi.Sepuluh pasien
ditugaskan untuk ambulasi pada pascaoperasi hari pertama, dan yang lainnya 24
pasien ditugaskan untuk ambulasi pada pascabedah hari keempat.Hasil yang
didapat, ternyata tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil mioelektrik
dalam pemulihan dilambung, jejunum, atau usus antara 2 kelompok tersebut
(Waldhausen, 1990).
4
Terapi farmakologis
Sampai saat ini belum
terdapat studi yang menilai manfaat supositoria dan enema untuk pengobatan
ileus.Eritromisin, suatu agnosis resptor motilin, telah digunakan untuk paresis
pasca-operasi lambung namun belum terbukti bermanfaat bagi ileus.Metoklopramid,
sebuah antagonis dopaminergik, sebagai obat antimuntah dan prokinetik.Data
telah menunjukkan bahwa pemberian obat ini dapat benar-benar memperburuk ileus
(Mukherjee, 2008).
Terapi farmakologis
yang dianjurkan adalah golongan Opioid antagonis selektif, misalnya alvimopan.Alvimopan
ini ditunjukkan untuk membantu mencegah ileus postoperative reseksi usus
(Maron, 2008).
a.
Dekompresi dengan pipa lambung Pemasangan infus untuk koreksi
keseimbangan cairan dan elektrolit. Juga keseimbangan asam-basa. Koreksi bedah. Tindakan bedah yang
dilakukan sesuai dengan kelainan patologinya.
Antibiotika profilaksis atau terapeutik tergantung proses patologi penyebabnya.
Dasar pengobatan obstruksi usus adalah koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit, menghilangkan peregangan dan muntah dengan intubasi dan kompresi, memperbaiki peritonitis dan syok bila ada, serta menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.
Antibiotika profilaksis atau terapeutik tergantung proses patologi penyebabnya.
Dasar pengobatan obstruksi usus adalah koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit, menghilangkan peregangan dan muntah dengan intubasi dan kompresi, memperbaiki peritonitis dan syok bila ada, serta menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.
1)
Obstruksi Usus Halus
Dekompresi pada usus
melalui selang usus halus atau nasogastrik bermamfaat dalam mayoritas kasus
obstruksi usus halus.Apabila usus tersumbat secara lengkap, maka strangulasi
yang terjadi memerlukan tindakan pembedahan, sebelum pembedahan, terapi intra
vena diperlukan untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit (natrium, klorida
dan kalium). Tindakan pembedahan terhadap obstruksi usus halus tergantung
penyebab obstruksi. Penyebab paling umum dari obstruksi seperti hernia dan
perlengketan. Tindakan pembedahannya adalah herniotomi.
2)
Obstruksi Usus Besar
Apabila obstruksi
relatif tinggi dalam kolon, kolonoskopi dapat dilakukan untuk membuka lilitan
dan dekompresi usus. Sekostomi, pembukaan secara bedah yang dibuat pasa sekum,
dapat dilakukan pada pasien yang berisiko buruk terhadap pembedahan dan sangat
memerlukan pengangkatan obstruksi. Tindakan lain yang biasa dilakukan adalah
reseksi bedah utntuk mengangkat lesi penyebab obstruksi. Kolostomi sementara
dan permanen mungkin diperlukan.
b.
Tindakan
Operatif
Tindakan operatif untuk
membebaskan obstruksi dibutuhkan bila dekompresi dengan NGT tidak memberikan
perbaikan atau diduga adanya kematian jaringan. Bila telah diputuskan untuk
tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu perhatikan : · Berapa lama obstruksinya
sudah berlangsung. · Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya, baik sebagai
akibat obstruksinya maupun kondisi sebelum sakit. · Apakah ada risiko
strangulasi. Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan
pada obstruksi ileus: · Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini
merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan,
misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi
atau pada volvulus ringan. · Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus
baru yang "melewati" bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor
intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya. · Membuat fistula entero-cutaneus
pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut. ·
Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus
untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus,
kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena
penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca
sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan
reseksi usus dan anastomosis.
I.
Asuhan
Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pemeriksaan fisik
Obstruksi usus halus sering menimbulkan nyeri
kolik dengan muntah hebat. Juga didapatkan distensi perut dan bising usus
meningkat. - Pada anamnesis intususepsi, didapatkan bayi tampak gelisah dan
tidak dapat ditenangkan, sedangkan diantara serangan biasanya anak tidur tenang
karena sudah capai sekali. Serangan klasik terdiri atas nyeri perut, gelisah
sewaktu kolik, biasanya keluar lendir campur darah (red currant jelly) per
anum, yang berasal dari intususeptum yang tertekan, terbendung, atau mungkin
sudah mengalami strangulasi. Anak biasanya muntah sewaktu serangan dan pada pemeriksaan
perut dapat diraba massa yang biasanya memanjang dengan batas jelas seperti
sosis. Bila invaginasi disertai strangulasi, harus diingat kemungkinan
terjadinya peritonitis setelah perforasi. - Pada volvulus didapatkan nyeri yang
bermula akut, tidak berlangsung lama, menetap, disertai muntah hebat. Biasanya
penderita jatuh dalam keadaan syok. - Ileus obstruksi usus besar agak sering
menyebabkan serangan kolik yang tidak terlalu hebat. Muntah tidak menonjol,
tetapi distensi tampak jelas. Penderita tidak dapat defekasi atau flatus. Bila
penyebabnya adalah volvulus sigmoid maka perut dapat besar sekali. -
Strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti takikardia,
pireksia (demam), lokal tenderness dan guarding, rebound tenderness, nyeri lokal,
hilangnya suara usus lokal, untuk mengetahui secara pasti hanya dengan
laparotomi. - Inspeksi Perut distensi, dapat ditemukan darm kontur dan darm
steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu
hernia inkarserata. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen berbentuk
sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. -
Perkusi Hipertimpani - Auskultasi - Hiperperistaltik, bising usus bernada
tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah
sampai hilang. - Palpasi Kadang teraba massa seperti pada tumor (pada colok
dubur teraba massa di rektum atau terdapat darah dan lendir), invaginasi,
hernia. Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma. Pada
volvulus teraba massa yang nyeri dan bertambah besar. Bila didapatkan feses
yang mengeras: skibala, bila feses negatif: obstruksi usus letak tinggi. Ampula
rekti yang kolaps: curiga obstruksi. Bila ada nyeri tekan: lokal atau general
peritonitis.
b. Pemeriksaan Radiologi
Pada foto polos pasien
dengan obstruksi yang komplit akan tampak terjadi dilatasi dari usus bagian
proksimal sampai ke tempat obstruksi dalam 3–5 jam Usus yang diameternya lebih
dari 3 cm sering dikaitkan dengan obstruksi. Usus bagian proksimal yang terdistensi
oleh gas dan cairan, akan tampak berdilatasi oleh timbunan udara intraluminer.
Sebaliknya, pada usus bagian distal dari obstruksi tidak tampak bayangan gas,
atau bila sumbatannya terjadi belum lama maka tampak bayangan gas yang sangat
sedikit di bagian distal obstruksi. Pada daerah rektum tidak tampak bayangan
gas atau udara. Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid level
yang banyak dibeberapa tempat (multiple fluid levels) yang tampak terdistribusi
dalam susunan tangga (step ladder appearance), sedangkan usus sebelah distal
dari obstruksi akan tampak kosong. Jumlah loop dari usus halus yang berdilatasi
secara umum menunjukkan tingkat obstruksi. Bila jumlah loop sedikit berarti
obstruksi usus halus letaknya tinggi, sedangkan bila jumlah loop lebih banyak
maka obstruksi usus halus letaknya rendah. Semakin distal letak obstruksi,
jumlah air fluid level akan semakin banyak, dengan tinggi yang berbeda-beda
sehingga berbentuk step ladder appearanc. Jarak valvula conniventes satu sama
lain yang normal adalah 1–4 mm. Jarak ini akan melebar pada keadaan distensi
usus halus. Akibat distensi usus halus, maka valvula conniventes agak teregang
dan bersama-sama dengan valvula conniventes dari loop yang bertetangga, akan
tampak di foto sebagai gambaran sirip ikan yang disebut herringbone appearance.
Bayangan udara di dalam kolon biasanya terletak lebih ke perifer dan biasanya
berbentuk huruf “U” terbalik. Obstruksi kolon ditandai dengan dilatasi
proksimal kolon sampai ke tempat obstruksi, dengan dekompresi dari kolon bagian
distal. Kolon bagian proksimal sampai letak obstruksi akan lebih banyak berisi
cairan daripada feses. Usus halus bagian proksimal mungkin berdilatasi, mungkin
juga tidak.
2. Diagnosa
Keperawatan
a. Nyeri
b/d distensi abdomen sekunder terhadap obstruksi usus.
b. Risiko
tinggi kekurangan volume cairan b/d mual muntah.
c. Nutrisi
kurang dari kebutuhan b/d absorpsi nutrisi.
d. Risiko
tinggi infeksi b/d kemungkinan nekrosis dan ruptur usus
e. Ansietas
b/d perubahan status kesehatan.
3. Rencana Keperawatan
a.
Nyeri b/d distensi abdomen sekunder
terhadap obstruksi usus.
Tujuan : Nyeri hilang
atau terkontrol.
Intervensi :
1)
Kaji tingkat nyeri dengan skala 0-10.
R/ Memudahkan perawat
dalam menentukan tingkat nyeri dan alat untuk evaluasi keefektifan analgesik, meningkatkan
kontrol nyeri.
2)
Pertahankan tirah baring sesuai program.
R/ Tirah baring
mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri dan mengurangi
kontraksi otot.
3)
Pasang selang gastrointestinal yang
disambungkan pada penghisap intermitten.
R/ Penghisapan membantu
dalam dekompensasi saluran gastrointestinal, irigasi saluran gastrointestinal
membantu mempertahankan ketepatan.
4)
Pertahankan posisi semi fowler.
R/ Membantu gerakan
gralisasi terhadap selang gastrointestinal dan meningkatkan
ekspansi paru.
5)
Pertahankan puasa sampai bising usus
kembali, distensi abdomen berkurang dan flatus keluar.
R/ Memungkinkan makanan
peroral dengan tidak ada bising usus akan meningkatkan
distensi dan ketidaknyamanan.
6)
Kolaborasi pemberian analgesik sesuai
indikasi.
R/ Menghilangkan nyeri,
meningkatkan kenyamanan/istirahat umum.
b.
Risiko tinggi kekurangan volume cairan
b/d mual muntah.
Tujuan : Menunjukkan
keseimbangan cairan dengan parameter individual yang tepat, mis: membran mukosa
lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler
cepat, tanda vital stabil.
Intervensi :
1) Kaji perubahan tanda vital, contoh: peningkatan suhu/demam memanjang, takikardia, hipotensi ortostatik.
1) Kaji perubahan tanda vital, contoh: peningkatan suhu/demam memanjang, takikardia, hipotensi ortostatik.
R/ Peningkatan
suhu/memanjangnya demam meningkatkan laju metabolik, TD ortostatik berubah dan
peningkatan takikardia menunjukkan kekurangan cairan sistemik
3)
Kaji turgor kulit, kelembaban membran
mukosa (bibir, lidah).
R/ Indikator langsung keadekuatan volume cairan.
3) Pantau masukan dan haluaran. Hitung keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan yang tak tampak.
R/ Indikator langsung keadekuatan volume cairan.
3) Pantau masukan dan haluaran. Hitung keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan yang tak tampak.
R/ Memberikan informasi
tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian.
4)
Observasi perdarahan dan tes feses tiap
hari untuk adakan darah samar.
R/ Diet tidak adekuat
dan penurunan absorpsi dapat menimbulkan defisiensi vitamin K dan merusak
koagulasi potensial risiko perdarahan.
5)
Kolaborasi pemberian cairan parenteral,
transfusi sesuai indikasi.
R/ Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan risiko dehidrasi.
R/ Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan risiko dehidrasi.
c.
Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d
absorpsi nutrisi.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan masukan makanan, mempertahankan/ meningkatkan berat badan.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan masukan makanan, mempertahankan/ meningkatkan berat badan.
Intervensi :
1)
Anjurkan pembatasan aktivitas selama
fase akut.
R/ Menurunkan kebutuhan
metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.
2)
Anjurkan istirahat sebelum makan.
R/ Menenangkan
peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.
3)
Berikan perawatan oral.
R/ Rasa tak enak, bau
dan penampilan dapat menurunkan nafsu makan dan merangsang mual dan muntah.
4)
Batasi makanan yang dapat menyebabkan
kram abdomen.
R/ Mencegah serangan akut.
5)
Kolaborasi pemberian obat sesuai
indikasi, mis: antikolinergik 15-30 menit sebelum makan.
R/ Menghilangkan kram
dan diare, menurunkan motilitas gaster dan meningkatkan waktu untuk absorpsi
nutrisi.
d.
Risiko tinggi infeksi b/d kemungkinan
nekrosis dan ruptur usus.
Tujuan : Fungsi usus kembali normal dan tidak terjadi infeksi.
Intervensi :
Tujuan : Fungsi usus kembali normal dan tidak terjadi infeksi.
Intervensi :
1)
Pantau kualitas dan intensitas nyeri,
TTV dan status abdomen.
R/ Deteksi dini terhadap potensial masalah.
R/ Deteksi dini terhadap potensial masalah.
2)
Beritahu dokter segera bila nyeri
abdomen, suhu, lingkaran abdomen terus meningkat disertai dengan penghentian
bising usus tiba-tiba.
R/ Temuan ini menunjukkan potensial ruptur dan peritonitis sehingga intervensi bedah daperuntukkan untuk mencegah akibat yang serius.
R/ Temuan ini menunjukkan potensial ruptur dan peritonitis sehingga intervensi bedah daperuntukkan untuk mencegah akibat yang serius.
3)
Siapkan pasien untuk pembedahan usus
bila direncanakan.
R/ Obstruksi vaskuler atau mekanis umumnya memerlukan intervensi bedah.
R/ Obstruksi vaskuler atau mekanis umumnya memerlukan intervensi bedah.
4)
Ikuti kewaspadaan umum, mencuci tangan
sebelum dan sesudah tindakan perawatan dan menggunakan sarung tangan untuk
kontak dengan darah atau cairan tubuh yang mungkin terjadi.
R/ Penyakit meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi. Petugas pelayanan kesehatan paling umum sebagai sumber infeksi nosokomial.
R/ Penyakit meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi. Petugas pelayanan kesehatan paling umum sebagai sumber infeksi nosokomial.
e.
Ansietas b/d perubahan status kesehatan.
Tujuan : Melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat yang dapat ditangani.
Intervensi :
Tujuan : Melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat yang dapat ditangani.
Intervensi :
1)
Motivasi klien menyatakan perasaannya.
R/ Membantu
pasien/orang terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress.
2)
Berikan informasi yang akurat dan nyata
tentang tindakan yang akan dilakukan.
R/ Keterlibatan pasien
dalam perencanaan perawatan dapat memberikan rasa kontrol dan membantu
menurunkan ansietas.
3)
Berikan lingkungan yang tenang untuk
istirahat, ajarkan teknik relaksasi.
R/ Relaksasi mengurangi
stress dan ansietas serta membantu klien untuk mengatasi ketidakmampuannya.
4)
Bantu pasien untuk mengidentifikasi
perilaku koping yang digunakan pada masa lalu.
R/ Perilaku yang
berhasil dapat dikuatkan pada penerimaan masalah/ stress saat ini, meningkatkan
rasa kontrol dari pasien.
4.
Evaluasi
Hasil yang diharapkan
setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah sebagai berikut.
a.
Kemampuan motilitas pasien dan
konstipasi dapat teratasi
b.
Tidak terjadi ketidakseimbangan cairan
tubuh
c.
Asupan nutrisi tubuh optimal
d.
Pasien tidak mengalami syok hipovolemik
e.
Terjadi penurunan respons kecemasan
f.
Terpemenuhinya informasi kesehatan
g.
Nyeri terkontrol atau teradaptasi
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth.2001.
Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 vol 2.
Jakarta:
EGC
Effendi, Nasrul. 1998. Dasar
Keperawatan Edisi 2. Jakarta: EGC
Hariana, Drs H. Arif. 2005.
Resep Mengobati Penyakit Swadaya: EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar