ASUHAN KEPERAWATAN PADA
TN.D DENGAN ILEUS
PARALITIK RUANG
1202
LANTAI 12 BLOK D
RUMAH SAKIT RSUD KOJA
JAKARTA

Disusun Oleh Kelompok I :
Mimin Mintarsih (14016)
Rahel (14024)
Ratna Budi Sari (14026)
Rita Widiyastuti (14027)
Yolanda AnggiKusuma (14042)
AKADEMI KEPERAWATAN
HARUM
JAKARTA
2015/2016
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
TN.D DENGAN ILEUS
PARALITIK RUANG
1202
LANTAI 12 BLOK D
RUMAH SAKIT RSUD KOJA
JAKARTA

Disusun Oleh Kelompok I :
Mimin Mintarsih (14016)
Rahel (14024)
Ratna Budi Sari (14026)
Rita Widiyastuti (14027)
Yolanda AnggiKusuma (14042)
AKADEMI KEPERAWATAN
HARUM
JAKARTA
2015/2016
KATA PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji syukur Alhamdulillah atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
berkat, Rahmat dan KaruniaNya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini
dengan judul “Asuhan Keperawatan klien dengan Pre Ileus
Paralitik”.
Penulis
menyusun laporan kasus ini dalam rangka memenuhi persyaratan tugas Keperawatan
Medikal Bedah II pada program diploma III dibidang Keperawatan Akademi
Keperawatan Harum Jakarta tahun ajaran 2015-2016.
Dalam
menyusun laporan kasus ini, penulis menyelesaikan makalah dengan bimbingan,
pengarahan, dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya untuk itu dalam kesempatan ini penulis dengan
segala rendah hati mengucapkan
terimakasih kepada:
1.
Ibu Rusmawati Sitorus,
S.Pd. S.Kep. M.A. Selaku Direktur Akademi Keperawatan Harum Jakarta dan Selaku Pembimbing Akademik
2.
Bapak Ns. Ragil
Supriyono, M.Kep. Selaku wali kelas tingkat II
3.
Bapak Ns. Denny
Haryanto, S.Kep. Selaku Koordinator KMB 2
4.
Kepala Ruangan Perawatan RSUD Koja Lantai 12 Blok D dan seluruh staff
perawatan RSUD Koja Jakarta yang telah membantu dalam proses
pendidikan.
5.
Klien dan keluarga Tn. D yang telah membantu dalam penyelesaian kasus ini.
6.
Rekan-rekan
semua
angkatan ke XVI Akademi
Keperawatan Harum Jakarta
Semoga
jasa dan budi baik orang-orang yang
telah membantu penulis dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Segala
kemampuan dan upaya yang telah penulis lakukan semaksimal mungkin penulis akan
lebih maksimal lagi dalam menyusun makalah sehingga penulis dengan senang hati
menerima segala bentuk saran dan kritik yang bersifat membangun demi
peningkatan laporan kasus ini. Penulis berharap agar laporan kasus ini
bermanfaat bagi semua para pembaca pada umumnya dan tenaga keperawatan pada
khususnya.

DAFTAR ISI
Kata
Pengantar .......................................................................................................... i
Daftar
Isi ................................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A.
Latar Belakang ................................................................................................... 1
B.
Tujuan Penulisan ................................................................................................ 3
C.
Ruang Lingkup
Penulisan...................................................................................
4
D.
Metode Penulisan ............................................................................................... 4
E.
Sistematika Penulisan ......................................................................................... 4
BAB
II TINJAUAN TEORITIS .............................................................................. 5
A. Pengertian...........................................................................................................
5
B. Etiologi................................................................................................................
5
C. Patofisiologi........................................................................................................
6
D. Pathway………………………………………………………………………. 7
E. Komplikasi..........................................................................................................
7
F. Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................
8
II. Asuhan Keperawatan............................................................................................
8
1.
Pengkajian .......................................................................................................... 8
2.
Diagnosa Keperawatan ...................................................................................... 9
3.
Rencana Keperawatan ....................................................................................... 9
4.
Pelaksanaan
Keperawatan................................................................................... 11
5.
Evaluasi Keperawatan......................................................................................... 11
BAB
III TINJAUAN KASUS.................................................................................. 12
A. Pengkajian........................................................................................................... 12
B. Analisa Data........................................................................................................
20
C. Diagnosa.............................................................................................................
23
D. Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi Keperawatan.............................................
23
BAB
IV PEMBAHASAN........................................................................................
41
A.
Pengkajian...........................................................................................................
41
B.
Diagnosa
Keperawatan.......................................................................................
42
C.
Perencanaan
Keperawatan..................................................................................
43
D.
Pelaksanaan Keperawatan...................................................................................
44
E.
Evaluasi
Keperawatan......................................................................................... 44
BAB V PENUTUP...................................................................................................
45
A.
Kesimpulan.........................................................................................................
0
B.
Saran...................................................................................................................
0
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa ini
di zaman modern dengan adanya peningkatan derajat ekonomi yang juga terjadi
pada masyarakat sangat berpengaruh terhadap gaya hidup sehari-hari, misalnya
pola aktifitas dan pekerjaan, namun tanpa disadari bahaya yang mengancam
kesehatan juga tidak dapat di hindari (Sjamsuhidayat, 2005).
Ileus
paralitik adalah istilah gawat abdomen atau gawat perut menggambarkan keadaan
klinis akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan
nyeri sebagai keluhan utama. (Iin Inayah, 2004)
Setiap
tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia di diagnosis ileus. Di Amerika
diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap tahunnya. Di
Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia
yang di rawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan (Departemen Kesehatan RI,
2010).
Laparatomi
pada ileus merupakan jenis pembedahan darurat abdomen yang paling sering
dilakukan di Negara-negara barat. Ileus dapat terjadi pada setiap usia, perbandingan
antara pria dan wanita mempunyai kemungkinan yang sama untuk menderita penyakit
ini. Namun penyakit ini sering dijumpai pada dewa samu dan antara umur 20-30
tahun (Smeltzer, 2002).
Obstruksi
intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering dijumpai,
merupakan 60-70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendicitis akut
abdomen yang bukan appendicitis akut. Penyabab yang paling sering dari
obstruksi ileus adalah adhesi/streng.
Ileus paralitik adalah obstruksi yang terjadi karena
suplai saraf otonom mengalami paralysis dan peristaltic usus terhenti sehingga
tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contoh nya amiloidosis, distropi
otot, gangguan endokrin seperti diabetes melitus atau gangguan neurologis
seperti penyakit Parkinson. (Mansjoer, 2011)
Setiap
tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usiadi diagnose ileus (Davidson,
2006). I Amerika di perkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap
tahunnya (Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus aralitik
dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan pada
tahun 2004 menurut Bank data Departemen Kesehatan Indonesia.
Ada 4 hal yang tetap menarik untuk diketahui/diselidiki tentang obstruksi ileus, ialah
:
1. Makin
meningkatnya keterdapatan obstruksi ileus.
2. Diagnosa obstruksi ileus sebenarnya mudah dan bersifat universil; tetapi untuk mengetahui proses patologik yang sebenarnya di dalamrongga abdomen tetap merupakan hal yang sulit.
3. Bahaya strangulasi yang amat ditakuti sering tidak disertai gambaran klinik
4. khas yang
dapat mendukungnya.
Untuk dapat melaksanakan penanggulangan penderita obstruksi ileus dengan
Cara yang sebaik baiknya, diperlukan konsultasi antara disiplin yang bekerja dalam satu tim dengan tujuan untuk mencapai 4
keuntungan :
1. Bila penderita harus dioperasi, maka operasi dijalankan pada saat keadaan umum penderita
optimal.
2. Dapat mencegah strangulasi
yang terlambat.
3. Mencegah laparotominegatif.
4. Penderita mendapat tindakan operatif yang sesuai dengan penyebab
5. obstruksinya.
Terapi ileus
obstruksi biasanya melibatkan intervensi bedah. Penentuan waktu kritis serta
Tergantung atas jenis dan lama ileus obstruktif. Operasi dilakukan secepat yang layak dilakukan dengan memperhatikan keadaan keseluruhan pasien (Sabiston, 1995).
B.
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan umum
Untuk
memenuhi salah satu syarat dalam tugas seminar mata kuliah Keperawatan Medikal
Bedah dan perolehnya pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada
klien dengan Ileus Paralitik.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa/i mampu
:
a. Mampu
melakukan pengkajian pada klien Tn.D dengan Ileus Paralitik
b. Mampu
menentukan masalah keperawatan pada klien Tn.D dengan Ileus Paralitik
c. Mampu
merencanakan asuhan keperawatan pada klien Tn.D dengan Ileus Paralitik
d. Mampu
melaksanakan tindakan keperawatan pada klien Tn.D dengan Ileus Paralitik
e. Mampu
melakukan evaluasi pada klien Tn.D dengan Ileus Paralitik
f. Mampu
mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat pada teori dan praktik.
g. Mampu
mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, penghambat serta mencari solusi dan
alternatif pemecahan masalah pada klien dengan Ileus
Paralitik
h. Mampu
mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien Tn.D dengan Ileus
Paralitik
C.
Ruang
Lingkup
Sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan dan disesuaikan dengan tempat praktek, maka hal ini penulis
membatasi lingkup bahasannya pada satu
kasus yaitu asuhan keperawatan pada klien Tn.D dengan Ileus Paralitik di RSUD KOJA Ruang 1202, mulai tanggal 25
Januari 2016 sampai dengan 28 Januari
2016.
D.
Metode Penulisan
Penulisan
makalah ini menggunakan metode deskriptif yaitu metode studi pepustakaan.
Dalam metode deskriptif pendekatan yang digunakan adalah studi kasus
dimana peserta didik mengelola satu kasus
menggunakan proses keperawatan. Sedangkan studi kepustakaan yaitu dengan membaca bahan
ilmiah yang berhubungan dengan judul
makalah yang diambil dari bermacam-macam sumber.
E.
Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan
makalah ini yaitu terdiri dari 5 bab :
Kata pengantar
Daftar isi
BAB I : Pendahuluan,
bagian ini terdiri dari latar belakang, tujuan,
ruang lingkup, metode penulisan dan
sistematika penulisan
BAB
II : Tinjauan
Teoritis.
BAB III : Tinjauan kasus, bagian ini
terdiri dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, implementasi dan
evaluasi.
BAB IV : Pembahasan
BAB V : Penutup meliputi
kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka
BAB II
TINJAUAN TEORISTIS
I. Konsep Dasar
A. Definisi
Ileus
paralitik adalah istilah gawat abdomen atau gawat perut menggambarkan keadaan
klinis akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan
nyeri sebagai keluhan utama. (Iin Inayah, 2004)
Ileus paralitik adalah obstruksi yang terjadi karena
suplai saraf otonom mengalami paralysis dan peristaltic usus terhenti sehingga
tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contoh nya amiloidosis, distropi
otot, gangguan endokrin seperti diabetes melitus atau gangguan neurologis
seperti penyakit Parkinson. (Mansjoer, 2011)
Ileus Paralitik adalah keadaan abdomen akut berupa
kembung distensi usus karena usus tidak bergerak (mengalami motilitas), pasien
tidak dapat buang air besar. (Person, 2006)
Dari
ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa ileus paralitik adalah istilah
gawat abdomen atau gawat perut yang yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama karena usus tidak
dapat bergerak (mengalami motilitas) dan menyebabkan pasien tidak dapat buang
air besar. (Syamsuhidayat, 2005)
B.
Etiologi
Walaupun
predisiposisi ileus biasanya terjadi akibat pascabedah abdomen, tetapi ada
faktor predisposisi lain yang mendukung peningkatan risiko terjadinya ileus, di
antaranya (Behm, 2003) sebagai berikut.
1. Sepsis
2. Obat-obatan
(misalnya: opioid, antasid,coumarin, amitriptyline, chlorpromazine).
3. Gangguan
elektrolit dan metabolik (misalnya hipokalemia, hipomagnesemia, hipernatremia,
anemia, atau hiposmolalitas).
4. Infark
miokard
5. Pneumonia
6. Trauma
(misalnya: patah tulang iga, cedera spina).
7. Bilier
dan ginjal kolik.
8. Cedera
kepala dan prosedur bedah saraf.
9. Inflamasi
intraabdomen dan peritonitis.
10. Hematoma
retroperitonel.
C.
Patofisiologi
Peristiwa
patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang
apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional.
Perbedaan utamanya pada obstruksi paralitik dimana paralitik dihambat dari
permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltic mula-mula diperkuat,
kemudian intermiten, dan akhirnya hilang.
Lumen
usus yang tersumbat secara progresif akan tegang oleh cairan dan gas 170% dari
gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intra lumen, yang menurunkan
pengaliran air dan natrium dari lumen usus ke darah. Oleh karena itu sekitar 8
liter cairan disekresi kedalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorbs
dapat mengakibatkan penimbunan intra sumber kehilangan utama cairan dan
elektrolit. Pengaruh atas kehilangan cairan dan elektrolit adalah penciutan
ruang cairan ekstra sel yang mengakibatkan hemokonsentrasi, hipovolemia,
insufisiensi ginjal, syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan
perfusi jaringan, asidosis metabolic dan kematian bila tidak dikoreksi.
D. Pathway
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
![]() |
![]() |
||||
![]() |
|||||





![]() |
|||
![]() |
|||
E.
Komplikasi
1. Peritonitis
karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada
intra abdomen.
2. Perforasi
dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ intra abdomen.
3. Sepsis,
infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.
4. Syok
hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.
(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122).
(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122).
F.
Pemeriksaan
Penunjang
1. Rontgen toraks: diafragma meninggi
akibat distensi abdomen.
2. Rontgen abdomen dalam posisi
telentang: mencari penyebab (batu empedu, volvulus, hernia).
3. Pemeriksaan sinar x: Untuk
menunjukan kuantitas abnormal dari gas atau cairan dalam usus.
4. Pemeriksaan laboratorium (misalnya
pemeriksaan elektrolit dan jumlah darah lengkap) akan menunjukan gambaran
dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan infeksi.
5. Pemeriksaan radiogram abdomen sangat
penting untuk menegakkan diagnosa obstruksi usus. (Doengoes, 2000)
I.
Asuhan
Keperawatan
A.
Pengkajian
Merupakan tahap awal
dari pendekatan proses keperawatan dan dilakukan secara sistemik mencakup aspek
bio, psiko, sosio dan spiritual. Langkah awal dari pengkajian ini adalah
pengumpulan data yang diperoleh dari hasil wawancara dari klien atau keluarga,
observasi pemeriksaan fisik, konsultasi dengan anggota tim kesehatan lainnya
dan meninjau kembali catatan medis ataupun catatan keperawatan. Pengkajian
fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Adapun lingkup
pengkajian yang dilakukan pada pasien ileus paralitik adalah sebagai berikut:
1. Identitas
pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, alamat, status
perkawinan, suku bangsa.
2. Riwayat
Keperawatan
a. Riwayat kesehatan sekarang meliputiapa yang
dirasakan kliensaat pengkajian
b.
Riwayat kesehatan masa lalu meliputi penyakit yang diderita, apakah sebelumnya
pernah sakit yang sama
c. Riwayat kesehatn keluarga meliputi apakah dari
keluarga ada yang menderita penyakit yang sama
3.
Riwayat Psikososial dan Spritual meliputi pola interaksi, pola pertahanan diri,
pola kognitif, pola emosi dan hasil kepercayan klien.
B.
Diagnosa
Keperawatan
1. Kekurangan
volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam, dan atau diforesis.
2. Nyeri
berhubungan dengan distensi, kekakuan
3. Ketidakefektifan
pola napas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan
4. Ansietas
berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan
C.
Rencana
Keperawatan
1. Kekurangan
volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam, dan atau diforesis.
Tujuan: Kebutuhan
cairan terpenuhi
Kriteria Hasil:
Tanda-tanda vital normal, masukan dan keluaran seimbang.
Intervensi:
a. Pantau tanda-tanda
vital dan observasi tingkat kesadaran dan gejala syok
b. Pantau cairan
parentral dengan elektrolit, antibiotik, dan vitamin
c. Pantau selang terhadap
masuknya cairan setiap jam
d. Ukur masukan dan
haluaran sampai adekuat
e. Observasi feses
pertama terhadap warna, konsistensi, jumlah: hindari konstipasi
2. Nyeri
berhubungan dengan distensi, kekakuan
Tujuan: Rasa nyeri
teratasi atau terkontrol
Kriteria Hasil:
Menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan relaks
Intervensi:
a. Pertahankan tirah
baring pada posisi yang nyaman
b. Kaji lokasi, berat
dan tipe nyeri
c. Kaji keefektifan dan
pantau terhadap efek samping analgesic
d. Berikan periode
istirahat terencana
e. Berikan dan anjurkan
tindakan alternative penghilang nyeri
f. Kaji dan anjurkan
melakukan latihan tentang gerak pasif atau pasif setiap 4 jam
3. Ketidakefektifan
pola napas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan
Tujuan: Pola napas
menjadi efektif
Kriteria Hasil: Pasien
menunjukkan kemampuan melakukan latihan pernapasan, pernapasan yang dalam dan
perlahan.
Intervensi:
a. Kaji statusn
pernapasan, observasi terhadap menelan, “pernapasan cepat”
b. Tinggikan kepala tempat
tidur 40-60 derajat
c. Pantau terapi
oksigen atau spirometer insentif
d. Kaji dan anjurkan
pasien untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan napas dalam setiap jam
e. Auskultasi dada
terhadap bunyi napas setiap 4 jam
4. Ansietas
berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan
Tujuan: Ansietas
teratasi
Kriteria Hasil: Pasien
mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini
Intervensi:
a. Kaji prilaku koping
baru dan anjurkan penggunaan penampilan yang berhasil
b. Pertahankan
lingkungan yang tenang dan tanpa stress
c. Dorong dukungan
keluarga dan orang terdekat
d. Jelaskan prosedur
dan tindakan dan beri penguatan penjelasan mengenai penyakit, tindakan dan
prognosis.
e. dorong dan sediakan
waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut: berikan penanganan
D.
Penatalaksanan
1. Koreksi
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
2. Terapi Nat, kt,
komponen darah
3. Ringer laktat untuk
mengoreksi kekurangan cairan interstisial
4. Dekstrosa dan air
untuk mem[erbaiki kekurangan cairan intraseluler
5. Implementasikan
pengobatan untuk syok dan peritonitis
6. Hiperalimentasi
untuk mengoreksi difisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus paralitik
atau infeksi
7. Reaksi usus dengan
anastomosis dari ujung ke ujung
8. Ostomi - barrel –
ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko
9. Kolostomi lingkaran
untuk mengalihkan aliran feses dan mendekomprei usus dengan reseksi usus yang
dilakukan sebagai prosedur kedua.
E.
Evaluasi
Hasil yang diharpkan
1. Sedikit mengalami
nyeri
2. Mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit
3. Memperoleh pemahaman
dan pengetahuan tentang proses penyakitnya
4. Mendapatkan nutrisi
yang optimal
5. Tidak mengalami komplikasi
BAB III
TINJAUAN KASUS
A.
Pengkajian
1.
Identitas
klien
Nama klien Tn.D tanggal masuk 21 Januari 2016,
jenis kelamin Laki-laki
umur 37 tahun status sudah menikah agama islam suku bangsa Betawi dan bahasa yang
digunakan bahasa indonesia klien sudah bekerja, alamat klien Jln Bendungan Melayu,
sumber biaya BPJS,
sumber informasi di dapat dari klien dan keluarga.
2.
Resume
Tn
D (37 th), datang ke IGD RSUD
Koja pada tanggal 21
Januari 2016 jam 12.55 WIB dengan keluhan
nyeri perut kiri
bawah, belum BAB ± 14 hari, tidak bisa flatus demam, nyeri
seperti ditusuk-tusuk. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter didapatkan
diagnosa Ileus Paralitik.
Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data, klien mengatakan nyeri perut
bagian kiri bawah, klien
mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk, klien tampak meringis kesakitan , skala
nyeri klien 7,
kesadaran compos metis, TD: 110/80mmHg, N: 80x/menit,
RR: 22x/menit, S: 38,5ºC. Dari data yang
diatas didapatkan diagnosa keperawatan yaitu: peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit, gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat dan gangguan
eliminasi fekal (konstipasi) berhubungan dengan menurunnya mobilitas intestinal.
Untuk masalah tersebut diatas dilakukan tindakan keperawatan adalah mengkaji
tanda-tanda vital klien, tehnik relaksasi, tehnik distraksi, kolaborasi
diberikan infus RL 20 tetesx/menit.
Hasil Lab: tanggal 21 Januari 2016 Hb 12,4 gr/dl, leukosit 23,0 u/l, trombosit 546.000 ribu, hematokrit 36,0 %. Setelah dilakukan
tindakan keperawatan didapatkan evaluasi yaitu, klien mengatakan belum bisa BAB selama ± 14 hari, belum bisa flatus dan
klien mengatakan masih terasa nyeri diperut bagian kiri bawah, klien tampak
lebih tenang. TTV klien TD: 110/80mmHg,
N: 80x/menit, S: 38,5ºC, RR: 22x/menit.
3.
Riwayat
Keperawatan
a. Riwayat
kesehatan sekarang
Keluhan utama: Klien
mengatakan tidak bisa BAB selama ±14
hari, nyeri perut kiri bawah seperti ditusuk-tusuk.
Faktor pencetus yaitu makan pedas timbulnya bertahap, lamanya keluhan 3 minggu, upaya klien untuk
mengatasi berobat ke Klinik.
b. Riwayat
kesehatan masa lalu
Klien tidak mempunyai
riwayat alergi dan klien tidak pernah mengalami kecelakaan, klien tidak pernah
dirawat di Rumah Sakit sebelumnya, dan di dalam keluarga tidak ada penyakit
keturunan dan klien pernah memakai obat-obatan yaitu promag.
c. Riwayat
Kesehatan Keluarga (Genogram)
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
Keterangan
:
:
Keturunan
d. Penyakit
yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang menjadi faktor risiko
Klien mengatakan anggota keluarga tidak
ada yang menjadi faktor risiko
e. Riwayat
Psikososial dan Spritual
Orang yang terdekat
dengan klien adalah istri
dan anaknya, pola komunikasi baik dan terarah, pembuat keputusan dalam keluarga
adalah istri, klien mengatakan
kurang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Dampak penyakit terhadap keluarga
yaitu cemas dan sedih, masalah yang mempengaruhi klien saat ini adalah kondisi
kesehatannya klien tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Mekanisme
koping terhadap masalah yang digunakan adalah klien diem, persepsi klien
terhadap penyakitnya saat ini klien memikirkan kelanjutan pengobatan, harapan
setelah menjalani pengobatan adalah sembuh, dan perubahan yang di rasakan
setelah sakit adalah klien merasa takut penyakitnya tidak bisa sembuh . Tidak
ada sistem nilai kepercayaan yang bertentangan dengan kesehatan, aktivitas
agama atau kepercayaan yang di lakukan klien adalah shalat dan berdoa. Kondisi
lingkungan yang mempengaruhi kesehatan tidak ada.
f. Pola
kebiasaan sehari-hari di rumah
1) Pola
Nutrisi
Frekuensi makan sebelum
sakit 3 kali sehari, nafsu makan klien kurang karena mual, porsi makan yang
dihabiskan 1 porsi, semua makanan disukai
oleh klien, klien tidak ada alergi, klien minum obat diet dan tidak menggunakan
alat bantu makan. Selama di rumah sakit frekuensi makan klien 3 kali sehari
nafsu makan klien kurang karena mual, klien
hanya minum susu dan makan roti, semua makanan klien
suka, klien tidak ada alergi makanan dan
tidak ada makanan pantangan
tidak ada makanan pantangan, klien mendapatkan diet susu cair, dan klien tidak
menggunakan alat bantu makan.
2) Pola
Eliminasi
a) BAK
Pola eliminasi BAK
sebelum klien masuk Rumah Sakit frekuensi 5
kali sehari warna kuning jernih, tidak ada keluhan saat BAK, dan klien tidak
menggunakan alat bantu BAK. Pola eliminasi
BAK klien klien setelah masuk Rumah Sakit frekuensi BAK
5 kali warna kuning jernih, tidak ada keluhan saat BAK, dan tidak menggunakan
alat bantu BAK (kateter, dll).
b) BAB
Pola eliminasi BAB
klien sebelum klien masuk Rumah Sakit klien tidak BAB selama ±14 hari, dan selama di
Rumah Sakit 1 kali BAB , klien mengeluh nyeri perut kiri bawah.
c) Pola
Personal Hygiene
Kebiasaan klien sebelum
masuk Rumah Sakit mandi 2 kali sehari waktunya pagi dan sore hari menggunakan
sabun mandi, oral hygiene 2 kali sehari pada waktu pagi setelah makan klien
mencuci rambut 2 kali dalam
seminggu menggunakan sampho. Sedangkan selama di Rumah Sakit
Klien mandi satu kali
pada waktu pagi hari, oral hygiene 2 kali pada waktu pagi dan waktu yang tidak
ditentukan (sebelum tidur/sore), dan selama di rumah sakit klien belum pernah
mencuci rambut.
d) Pola
Istirahat dan Tidur
Sebelum klien masuk
rumah sakit klien jarang tidur siang, lama tidur malam adalah 6 jam dan kebiasaan
belum tidur adalah berdoa.
Selama di Rumah Sakit klien tidur siang selama kurang lebih 2 jam, tidur malem 5 sampai 6 jam dan kebiasaan
sebelum tidur adalah berdoa.
e) Pola
Aktivitas dan Latihan
Kegiatan klien dalam
sehari-hari adalah bekerja, klien tidak
berolahraga,
klien tidak ada keluhan saat beraktifitas, tetapi setelah di rumah sakit klien
mengatakan mengalami kesulitan dalam beraktifitas karena pemasangan infusan
pada tangan kirinya.
f) Kebiasaan
yang Mempengaruhi Kesehatan
Pola kebiasaan klien,
klien merokok sebanyak 1 bungkus
dan tidak minum-minuman
keras/Nabza.
4.
Pengkajian
Fisik
a. Pemeriksaan
Fisik Umum
Berat badan klien 58 kg, berat badan
sebelum sakit 62
kg,. Tinggi badan 170
cm, tekanan darah 110/70mmHg, nadi: 80x/menit,
frekuensi nafas: 22x/menit,
suhu: 38,5ºC, keadaan umum klien
ringan, dan tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.
b. Sistem
Penglihatan
Posisi mata simetris,
kelopak mata normal, pergerakan bola mata normal, konjungtiva merah muda, kornea normal, sklera
anikterik, pupil isokor, tidak ada kelainan pada otot-otot mata, fungsi
pengihatan baik, tidak ada tanda-tanda radang, klien tidak memakai kaca mata
maupun lensa mata kontak, reaksi terhadap cahaya baik.
c. Sistem
Pendengaran
Daun telinga klien
normal, tidak ada serumen dalam telinganya, kondisi telinga tengah normal,
tidak ada cairan dalam telinga, tidak ada perasaan penuh di telinga, tidak ada
tinitus, dan fungsi pendengaran normal, tidak ada gangguan keseimbangan di
telinga, dan klien tidak menggunakan alat bantu dengar.
d. Sistem
Wicara
Klien tidak mengalami
gangguan bicara.
e. Sistem
Pernafasan
Jalan nafas klien
bersih, klien tidak sesak nafas, klien tidak menggunakan otot bantu pernafasan,
frekuensi nafas 22x/menit,
irama teratur, kedalaman dangkal, klien batuk tidak produktif, pernafsan
spontan, tidak ada sputum, saat dilakukan palpasi dada simitris, pergerakan
normal dan tidak ada benjolan, saat diperkusi tidak ada ronchi, suara nafas
vasikuler, klien mengtakan tidak merasakan nyeri saat bernafas, dan tidak
menggunakan otot bantu nafas.
f. Sistem
Kardiovaskuler
Sirkulasi perifer nadi
80x/menit, irama teratur, denyut nadi kuat,
tekanan darah 110/70mmHg, tidak ada
distensi vena jugularis pada sisi kanan dan kiri, temperatur kulit hangat,
warna kulit pucat, pengisian kapiler 3
dtk,
tidak ada edema. Pada sirkulasi jantung kecepatan denyut apical 85x/menit, irama teratur,
tidak ada kelainan bunyi jantung, dan tidak ada sakit dada.
g. Sistem
Hematologi
Klien terdapat gangguan
hematologi, klien tampak pucat, tetapi tidak ada perdarahan
h. Sistem
Saraf Pusat
Klien mengatakan tidak
ada keluhan sakit kepala, tingkat kesadaran compos mentis, nilai GCS E: 4, M:
6, V: 5, tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, klien
merasakan kesemutan pada kali, pada pemeriksaan refleks fisiologis normal, dan
refleks patologis tidak ada.
i.
Sistem Pencernaan
Keadaan mulut: gigi tidak
ada caries, klien tidak menggunakan gigi palsu, tidak ada stomatitis, lidah
kotor, silifa normal, klien tidak muntah, klien mengatakan nyeri pada daerah
perut, skla nyeri klien 7,
lokasi nyeri di perut kiri
bawah , karakteristik nyeri seperti ditusuk-tusuk, bising usus 3, klien tidak diare,
klien konstipasi ±14
hari, hepar tidak teraba dan abdomen mengalami kembung.
j.
Sistem Endokrin
Saat di lakukan
pemeriksaan fisik tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, nafas tidak berbau
keton, tidak ada luka gangren.
k. Sistem
Urogenital
Balance cairan: intake 1000 cc (Infus 500cc, Minum 500cc) output 1036 cc (Urine 700cc, keringat 100cc, BAB 200cc
IWL 36 cc), intake 1000ml/24 jam- 1036ml/24 jam. Balance cairan (1000cc - 1036cc =
-36cc), pola berkemih tidak ada distensi, warna kuning
jernih.
l.
Sistem Integumen
Turgor kulit tidak elastis, temperatur
hangat, warna kulit pucat, keadaan kulit baik, tidak ada kelainan kulit,
kondisi kulit pemasangan infus baik tidak ada tanda-tanda infeksi, keadaan
rambut tekstur baik, rambut bersih.
m. Sistem
Muskuloskeletal
Klien mengalami
kesulitan dalam pergerakan karena pemasangan infus disebelah di tangan sebelah
kiri, tidak ada nyeri sendi maupun nyeri kulit, klien tidak mengalami fraktur,
tidak ada kelainan bentuk tulang sendi, tidak ada kelaianan struktur tulang
belakang, keadaan tonus otot hipotoni, kekuatan otot tangan kanan 5, tangan
kiri 5, kaki kanan 5, kaki kiri 5.
n. Data
Penunjang
Pada tanggal 21 Januari 2016 di dapatkan
hasil laboratorium hematologi hemoglobin:
12,4gr/dl (p:13-16, w:
12-14), leukosit 23.0u/l (5000-10.000),
trombosit 546.000/mm (150.000 - 400.000/mm), hematokrit
36% (p: 45-55%, w: 40 - 50). Kimia klinik elektrolit natrium 130 mEq/L (135 -
147), kalium 3,81 mEq/L (3,5 - 5,0), klorida 94 (96 - 108) mEq/L. Hematologi
ureum 27,0 mg/dL (16,6 – 48,5), kreatinin 0,63 mg/dL (0,67 – 1,17), glukosa
sewaktu 120 mg/dL.
o. Penatalaksanaan
Therapy infus: RL
20 tetes x/menit
Therapy injeksi: Ranitidin 1x25 gram
Cetorolak L/P
OMZ 2x1 amp
Ondansentron
1x1 amp
Clybotik 3x250 gram
Mesopanem 3x1 amp
Yal/pagi 1x1
DATA
FOKUS
Data Subjektif
Pre
Operasi: Klien mengatakan nyeri pada perut
sebelah kiri bawah, klien
mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk, klien mengatakan tidak bisa BAB selama ± 14 hari, klien mengatakan tidak bisa
flatus, klien mengatakan badannya demam, klien mengatakan kepalanya pusing,
klien mengatakan lemas, mengatakan sulit untuk BAB, klien mengatakan demam
sudah 2 hari, klien mengatkan setelah diberikan obat yal BAB 1x dan feses klien
cair (berwarna hitam), klien mengatkan perutnya keras (kembung).
Data Objektif
Pre
Operasi: wajah klien menahan sakit, skala nyeri
7, nyeri tekan pada area kiri bawah, klien gelisah, klien lemas, klien pucat, klien meringis kesakitan, klien memegangi perutnya,
suhu tubuh klien teraba demam (38,5), turgor kulit klien tidak elastis, mukosa bibir klien kering,
skala nyeri klien 7, klien susah untuk BAB, feses klien berwarna hitam dan cair, perut klien teraba kembung..
Tekanan darah 110/70mmHg, nadi 80x/menit, suhu 38,5ºC, pernafasan 22x/menit. Hasil LAB
tanggal 21 Januari 2016
Hb
12,4 gr/dl, leukosit 23,0 u/l, trombosit 546.000 ribu, hematokrit 36,0 vol%.
B. Analisa
Data
|
No
|
Data
|
Masalah
|
Etiologi
|
|
1.
|
Pre operasi
Ds:
1.
klien mengatakan badannya demam sudah 2 hari
2.
klien mengatakan badannya lemas
4.
klien mengatakan kepalanya pusing
Do:
1.
suhu tubuh klien teraba demam (38,5ºC)
2.
klien lemas
3.
klien pucat
4.
TTV klien TD: 110/80 mmHg, S: 38,5ºC, N: 80 x/menit, RR: 22 x/menit
5.
hasil laboratorium
|
Peningkatan suhu tubuh
|
Proses penyakit
|
|
2.
|
Pre
operasi
Ds:
1.
klien mengatakan nyeri dibagian perut kiri bawah
2.
klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk
Do:
1.
klien meringis kesakitan
2.
klien lemas
3.
klien terlihat memegangi perutnya
4.
skala nyeri klien 7
5.
TTV klien TD: 110/80 mmHg, S: 38,5ºC, N: 80 x/menit, RR: 22 x/menit
|
Nyeri
|
Distensi Abdomen
|
|
3.
|
Pre
operasi
Ds:
1.
klien mengatakan lemas
2.
klien mengatakan kepalanya pusing
3.
klien mengatakan BAB baru 1x, konsistensi cair
Do:
1.
klien lemas
2.
turgor kulit klien tidak elastis
3.
mukosa bibir klien tidak lembab/kering
4.
TTV klien TD: 110/80 mmHg, S: 38,5ºC, N: 80 x/menit, RR: 22 x/menit
6.
Hasil Laboralatorium
Kalium:
3,81 mEq/dl ( N )
7.
intake:
Infus 500
1000
Output:
Urine 700
Keringat
100
1000
24
IWL
+ output
36
+ 1000 = 1036
Balance
Cairan:
Intake
– output
1000
– 1036 = -36 cc
|
Gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh
|
Intake
tidak adekuat
|
|
4.
|
Pre operasi
Ds:
1.
klien mengatakan belum BAB ± 14 hari
2.
klien mengatakan sukit untuk BAB
3.
Klien mengatakan setelah diberikan obat yal BAB 1x dan feses klien cair
(berwarna hitam)
4.
klien mengatakan perutnya keras (kembung)
Do:
1.
klien sulit untuk BAB
2.
feses klien berwarna hitam dan cair
3.
perut klien teraba keras
4.
bising usus klien 3
|
Gangguan
eliminasi fekal (konstipasi)
|
Menurunnya mobilitas intestinal
|
C.
Diagnosa
Keperawatan
Pre Operasi
1. Peningkatan
suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit
2. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
3. Gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat
4. Gangguan
eliminasi fekal berhubungan dengan menurunnya mobilitas intestinal
D.
Perencanaan,
Pelaksanaan, Evaluasi
Pre operasi
1.
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses
penyakit
Data
Subjektif:
Klien
mengatakan badannya demam sudah 2 hari
Klien
mengatakan badannya lemas
Klien
mengatakan kepalanya pusing
Data
Objektif:
Suhu
tubuh klien teraba demam (38,5ºC)
Klien
lemas, pucat
TTV klien:
Tekanan Darah: 110/80 mmHg
Nadi: 80 x/menit
Pernafasan: 22x/menit
Suhu: 38,5ºC
Hasil
laboratorium
Trombosit
546/uL.( )
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan kepada Tn. D selama
1x24 jam diharapkan
masalah gangguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
proses penyakit dapat teratasi.
Kriteria
Hasil:
1) Suhu tubuh klien dalam batas normal suhu dewasa 36,5 -
37ºC
2) Klien terlihat lebih tenang
3) Tidak ada perubahan warna pada kulit
4) Hasil Lab dalam batas norma (Hb: 13,5 – 18,0 g/dl, Ht:
42,0 – 52,0 vol%, T: 163 – 337/ul, L: 4,00 – 10,50/ul)
Rencana Tindakan
Mandiri
1) Kaji
tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu, nadi, pernafasan)
Rasional: untuk mengetahui keadaan umum klien
2)
Lakukan kompres
hangat
Rasional:
untuk menurunkan suhu tubuh klien
3)
Anjurkan klien
untuk banyak minum 1500 – 2500 ml/hari
Rasional:
untuk mencegah dehidrasi
4)
Anjurkan klien
untuk tidak memakai selimut dan pakaian tebal
Rasional:
untuk mengurangi adanya peningkatan suhu tubuh
Implementasi
Selasa, 26 Januari 2016
a. 09.00 WIB Mengkaji tanda-tanda
vital
Respon:Tekanan Darah 96/80 mmHg
Nadi:
88 x/menit
Suhu:
37ºC
Pernafasan:
23 x/menit
b. 09.30 WIB Melakukan kompres hangat di dahi
Respon:
Klien sudah diberikan kompres hangat di dahi
c. 09.50 WIB Menganjurkan klien untuk banyak minum
1500-2500 ml/hari
Respon:
Klien mau minum air sebanyak 800 ml.
d. 10.00 WIB Menganjurkan klien untuk tidak menggunakan
selimut dan pakaian tebal
Respon:
Klien terlihat tidak menggunakan pakaian tebal.
Evaluasi
Selasa, 26 Januari 2016 (13.00 WIB)
S: Klien
mengatakan demamnya sudah turun, klien mengatakan tidak demam lagi
O: Badan klien teraba tidak demam, suhu tubuh
klien 37ºC.
A: Tujuan tercapai, masalah peningkatan suhu tubuh
teratasi
P:
Pertahankan intervensi 1-4
2.
Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
Data
Subjektif:
Klien
mengatakan nyeri dibagian perut kiri bawah
Klien
mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk.
Klien
mengatakan perutnya kembung
Data Objektif:
Klien
meringis kesakitan
Klien
lemas
Klien
memegangi perutnya
Skala
nyeri klien 7
TTV
klien
Tekanan
darah 110/80 mmHg
Suhu
38,5ºC
Nadi
80 x/menit
Pernafasan
22 x/menit
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan kepada Tn. D
selama 3x24 jam diharapkan masalah nyeri berhubungan dengan distensi abdonmen dapat
teratasi.
Kriteria Hasil:
1) Klien tidak merasa nyeri lagi
2) Klien terlihat lebih rileks
3) Klien dapat melakukan teknik relaksasi
4) Skala nyeri klien (0-3)
Rencana Tindakan
Mandiri
1) Pertahankan tirah baring
pada posisi yang nyaman
Rasional:
agar klien menjadi lebih rileks
2) Anjurkan klien teknik nafas dalam
Rasional:
mengalihkan rasa nyeri klien dan mengurangi ketegangan
3) Kaji TTV klien (Tekanan darah, suhu, nadi, pernafasan)
Rasional:
untuk mengetahui keadaan umum klien
4) Kaji karakteristik nyeri misalnya: tajam konstan,
ditusuk-tusuk atau seperti di cubit
Rasional:
membantu dalam mengidentifikasi derajat ketidaknyamanan
Kolaborasi
5) Berikan terapi obat ranitidine
Rasional:
untuk menghilangkan rasa nyeri klien.
Implementasi
Selasa, 26 januari 2016
a. 10.00 WIB Mengkaji ttv klien
Respon:
TTV Klien TD: 96/80 mmHg, S: 37ºc, N: 88x/menit, RR: 23x/menit
b. 10.15 WIB Mempertahankan tirah
baring pada posisi nyaman
Respon:
Klien sudah diberikan posisi semi fowler
c. 10.30 WIB Mengajarkan klien tehnik napas dalam
Respon:
Klien sudah diajrkan tehnik napas dalam
d.
10.45 WIB
Mengkaji karakteristik nyeri klien
Respon:
Skala nyeri klien 7 seperti ditusuk-tusuk
e.
11.00 WIB
Memberikan terapi obat ranitidine
Respon:
Klien sudah diberikan obat ranitidine
Rabu, 27 Januari 2016
a. 09.00 WIB Mengkaji ttv klien
Respon:
TTV Klien TD: 90/40mmHg, N: 83x/menit, RR: 20x/menit, S: 36ºC
b. 09.10 WIB Mempertahankan tirah baring pada posisi
nyaman
Respon:
Klien sudah diberikan posisi semi fowler
c. 09.20 WIB Mengajarkan klien tehnik napas dalam
Respon:
Klien mau melakukan tehnik napas dalam
d. 09.30 WIB Mengkaji karakteristik nyeri klien
Respon:
Skala nyeri klien 5 kadang hilang timbul
Kamis, 28 Januari 2016
a. 09.00 WIB Mengkaji TTV klien
Respon:
TD: 100/90 mmHg, S: 36,3ºC, N: 81 x/menit, RR: 19 x/menit.
b. 09.15 WIB Mempertahankan tirah baring pada posisi
nyaman
Respon:
Posisi klien nyaman dengan semi fowler
c. 09.30 WIB Mengajarkan klien teknik nafas dalam
Respon:
Klien masih mau untuk di ajarkan teknik nafas dalam
d. 09.45 WIB Mengkaji karakteristik nyeri klien
Respon:
Skala nyeri klien 2
e. 10.00 Memberikan terapi obat ranitidine
Respon:
Klien sudah diberikan obat ranitidine.
Evaluasi
Selasa, 26 Januari 2016 (13.15 WIB)
S: Klien mengatakan
perutnya nyeri dibagian bawah, klien mengatakan nyerinya seperti ditusuk-tusuk.
O: Klien terlihat
meringis kesakitan, klien terlihat memegangi perutnya dengan skala nyeri klien
6.
A: Tujuan belum
tercapai, masalah nyeri berhubungan dengan distensi belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi 1-5
Rabu,
27 Januari 2016 (12.15 WIB)
S: Klien mengatakan nyerinya sudah berkurang,
klien mengatakan sudah mulai nyaman
O: Klien terlihat mulai nyaman, skala nyeri klien
4
A: Tujuan belum tercapai, masalah gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan distensi belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi 1-5
Kamis,
28 Januari 2016 (12.30 WIB)
S: Klien mengatakan nyerinya sudah sangat
berkurang, klien mengatakan tidak cemas/gelisah lagi, klien mengatakan sudah
nyaman karna nyerinya sudah berkurang/hilang.
O: Klien terlihat lebih relaks, posisi klien semi
fowler, skala nyeri klien 2.
A: Tujuan tercapai, masalah teratasi gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi belum teratasi
P: Pertahankan intervensi 1-4
3.
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Data
Subjektif:
Klien
mengatakan lemas
Klien
mengatakan kepalanya pusing
Klien
mengatakan bab baru 1 kali, konsistensi cair
Data Objektif:
Klien
lemas
Klien
pucat
Turgor
kulit klien tidak elastis
Mukosa
bibir klien tidak lembab/kering
TTV
klien
Tekanan
darah 110/80 mmHg
Suhu
38,5ºC
Nadi
80 x/menit
Pernafasan
22 x/menit
Intake
Infus 500
1000
Output:
Urine 700
Keringat 100
1000
24
IWL + output = 36 + 1000 = 1036
Balance Cairan:
Intake – output = 1000 – 1036 = -36 cc
Hasil Lab
Kalium: 3,81 mEq/dl ( N
)
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan kepada Tn. D selama 3x24 jam diharapkan gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan output yang berlebihan dapat teratarasi
Kriteria
Hasil:
1) Mukosa
bibir klien lembab
2) Turgor kulit klien kembali elastis
3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Rencana Tindakan
Mandiri
1) Observasi
tanda-tanda dehidrasi (mukosa bibir dan turgor kulit)
Rasional : untuk mengetahui tingkat
dehidrasi
2) Ukur tanda-tanda vital
klien (tanda-tanda vital, sushu, nadi, pernapasan)
Rasional : untuk mengetahui keadaan dehidrasi
dapat menyebabkan hipotensi, edema
dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
3) Monitor intake dan
output cairan
Rasional: mengidentifikasi keseimbangan
cairan
4) Anjurkan
klien untuk minum air mineral 1500-2500 ml/hari
Rasional : memenuhi kebutuhan cairan
klien
Kolaborasi
5) Pemberian
cairan intravena
Rasional: untuk mempertahankan cairan
Implementasi
Selasa, 26 januari 2016
a. 11.00 WIB Mengkaji ttv klien
Respon: TTV Klien TD : 96/80 mmhg, N: 88x/menit, S: 37ºC RR: 23x/menit
b. 11.10 WIB Mengobservasi
tanda-tanda dehidrasi klien
Respon: Mukosa bibir klien masih
kering, turgor kulit klien kurang elastis
c. 11.15 WIB Memonitor intake dan
ouput klien
Respon: Intake Infus
500
1100
Output:
Urine 700
Keringat 100
1000
24
IWL
+ output = 36 + 1000 = 1036
Balance
Cairan: Intake – output = 1000 – 1036 = -36 cc
d. 11.30 WIB Menganjurkan klien
untuk minum air mineral 1500-2500ml/hari
Respon: Klien
mampu minum air 600ml/hari
e. 11.45 WIB Memberikan cairan
intravena
Respon: Klien
sudah diberikan cairan intravena (asering 500ml/hari, 20tts/menit)
Rabu, 27 januari 2016
a. 10.00 WIB Mengkaji ttv klien
Respon: TTV Klien TD : 90/40 mmhg, N: 83x/menit S: 36ºC RR: 20x/menit
b. 10.15 WIB Mengobservasi
tanda-tanda dehidrasi klien
Respon: Mukosa bibir klien masih
kering, turgor kulit klien kurang elastis
c. 10.30 WIB Memonitor intake dan
output klien
Respon: Intake: Infus 500
1350
Output:
Urine 600
Keringat 150
950
24
IWL
+ output = 36 + 950= 986
Balance
Cairan: Intake – output = 1350 – 986 = 364 cc
d.
10.45 WIB Menganjurkan
klien untuk minum air mineral 1500-2500ml/hari
Respon:
Klien mau minum 850ml/hari
e.
11.00 WIB
Memberikan cairan intravena
Respon:
Klien sudah diberikan cairan intravena (asering 500ml/hari, 20tts/menit)
Kamis, 28 januari 2016
a. 10.00 WIB Mengkaji ttv klien
Respon: TTV Klien TD : 100/90 mmhg, N: 81x/menit, S: 36,3ºC RR: 19x/menit
b. 10.10 WIB Mengobservasi
tanda-tanda dehidrasi klien
Respon: Mukosa bibir klien mulai
terlihat lembab, turgor kulit klien sudah elastis
c. 10.30 WIB Memonitor intake dan
ouput klien
Respon: Intake: Infus 500
1500
Output: Urine 600
Keringat 150
950
24
IWL + output = 36 + 950
= 986
Balance Cairan: Intake
– output = 1500 – 986 = 514cc
d.
10.40 WIB
Menganjurkan klien untuk minum air mineral 1500 - 2500ml/hari
Respon:
Klien mengatakan minum air mineral 1000ml/hari
e.
11.00 WIB
Memberikan cairan intravena
Respon:
Klien sudah diberikan cairan intravena (RL 500ml/hari, 18tts/menit)
Evaluasi
Tanggal 26 Januari 2016 (13.30 WIB)
S: Klien mengatakan lemas,
klien mengatakan kepalanya pusing, klien mengatakan BAB cair.
O: Klien terlihat lemas,
klien terlihat pucat, turgor kulit klien tidak elastis, mukosa bibir klien
terlihat kering.
A: Tujuan
belum tercapai, masalah gangguan cairan dan elektrolit belum teratasi
P: Lanjutkan
inervensi 1-5
Rabu,
27 januari 2016 (12.30 WIB)
S: Klien
mengatakan masih lemas, klien mengatakan kepalanya masih pusing.
O: Klien
terlihat masih pucat, mukosa bibir klien masih terlihat lembab.
A: Tujuan
belum tercapai, masalah gangguan cairan dan elektrolit belum teratasi
P: Lanjutkan
intervensi 1-5
Kamis,
28 januari 2016 (12.45)
S: Klien
mengatakan minumnya sudah mulai banyak, klien mengatakan minumnya 500ml/hari,
klien mengatakan lemasnya sudah hilang.
O: Klien
terlihat lebih segar, intake klien (minum 1000ml/hari), intake dan output klien
balance.
A: Tujuan
tercapai, masalah gangguan cairan dan elektrolit teratasi
P: Pertahankan
intervensi 1-5
4.
Gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan menurunnya
mobilitas intestinal
Data
Subjektif:
Klien
mengatakan belum BAB ± 14 hari
Klien
mengatakan sulit untuk BAB
Klien
mengatakan setelah diberikan obat Yall BAB 1x dan fesesnya cair (berwarna
hitam)
Klien
mengatakan perutnya keras (kembung)
Data Objektif:
Klien
terlihat sulit untuk BAB
Feses
klien berwarna hitam dan konsistensinya cair
Perut
klien teraba keras
Bising
usus klien 3x/menit
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan kepada Tn. D
selama 3x24 jam diharapkan masalah gangguan eliminasi fekal (konstipasi) berhubungan
dengan mobilitas intestinal dapat teratasi.
Kriteria Hasil:
1)
BAB klien
kembali normal (3x.hari)
2)
Perut klien
tidak keras/kembung lagi
3)
Feses klien
setengah padat, berwarna kuning, berbau khas feses
4)
TTV klien
kembali normal
5)
Bising usus
klien dalam batas normal (9-12x/menit)
Rencana
Tindakan
Mandiri
1) Kaji TTV klien
(TD,S,N,RR)
Rasional:
untuk mengetahui keadaan umum klien
2) Anjurkan klien untuk minum air hangat atau jus buah
Rasional:
untuk merangsang paristaltik sebelum defekasi
3) Anjurkan klien untuk makan makanan yang berserat
(brokoli, kismis, buah apel, pir, pisang, oat dan gandum)
Rasional:
membantu klien mengatasi masalah susah BAB
4)
Auskultasi
bising usus klien
Rasional:
untuk mengetahui bising usus biasanya meningkat pada saat konstipasi
5)
Monitor intake
dan output klien
Rasional:
membantu mengidentifikasi dehisrasi dan kekurangan nutrisi
Kolaborasi
6) Pemberian therapy obat Yall (Dulcolax) setiap pagi
Rasional:
membantu mencahar feses atau mengeluarkan feses
7) Pertahankan tirah baring
pada posisi yang nyaman
Rasional:
agar klien menjadi lebih rileks
Implementasi
Selasa,
26 januari 2016
a.
12.00 WIB Mengkaji
ttv klien
Respon: TTV Klien TD : 96/80 mmhg, N: 88x/menit, S: 37ºC RR: 23x/menit
b.
12.10 WIB Menganjurkan
klien untuk minum air hangat atau jus buah
Respon: Klien mengatakan belum
minum jus tetapi sudah minum air hangat
c.
12.25 WIB Menganjurkan
klien untuk makan makanan yang berserat (brokoli, kismis, pir, pisang pepaya)
Respon: Klien mau makan buah
pisang
d.
12.30 WIB Mengauskultasi
bising usus klien
Respons: Bising usus klien 3x/menit
e.
12.45 WIB Memonitor
intake dan output klien
Respon: Intake : Infus 500
1100
Output:
Urine 700
Keringat 100
1000
24
IWL
+ output = 36 + 1000 = 1036
Balance
Cairan:
Intake
– output = 1000 – 1036 = -36 cc
f.
12.50 WIB
Memberikan terapi obat Yall (Dulcolax)
Respon:
Klien sudah diberikan obat sesuai instruksi dokter setiap pagi (Dulcolax)
Rabu, 27 januari 2016
a. 11.10 WIB Mengkaji ttv klien
Respon: TTV Klien TD : 90/40 mmhg, N: 83x/menit, S: 36ºC RR: 20x/menit
b. 11.20 WIB Menganjurkan klien
untuk minum air hangat atau jus buah
Respon: Klien minum jus pir
c. 11.30 WIB Menganjurkan klien untuk
makan makanan yang berserat (brokoli, kismis, buah pir, pisang dan pepaya)
Respon: Klien mengatakan sudah
diberikan papaya dari rumah
sakit
d. 11.40 WIB Mengauskultasi bising
usus klien
Respon: Bising usus klien
7x/menit
e. 12.00 WIB Memonitor intake dan output
klien
Respon: Intake: Infus 500
1350
Output:
Urine 600
Keringat 150
950
24
IWL
+ output = 36 + 950= 986
Balance
Cairan: Intake – output = 1350 – 986 = 364 cc
f. 12.05 WIB Memberikan therapy obat Yall (Dulcolax)
Respon:
Klien sudah diberikan obat sesuai instruksi dokter dan sudah BAB 1x/hari
Kamis, 28 januari 2016
a. 11.05 WIB Mengkaji ttv klien
Respon: TTV Klien TD : 100/90 mmhg, N: 81x/menit, S: 36,3ºC RR: 19x/menit
b. 11.15 WIB Menganjurkan klien
untuk minum air hangat atau jus buah
Respon: Klien mengatakan minum
air hangat sebanyak 1 gelas
c. 11.20 WIB Menganjurkan klien
untuk makan makanan yang berserat
Respon: Klien mengatakan sudah
makan buah papaya tetapi tidak habis
d. 11.30 WIB Mengauskultasi bising
usus klien
Respon: Bising usus klien
9x/menit
e. 11.40 WIB Memonitor intake dan
output
Respon:
Intake: Infus 500
1500
Output:
Urine 600
Keringat 150
950
24
IWL
+ output = 36 + 950 = 986
Balance
Cairan: Intake – output = 1500 – 986 = 514cc
f.
12.00 WIB
Memberikan therapy obat Yall (Dulcolax)
Respon:
Klien sudah diberikan dulcolax dan sudah BAB juga 1x/hari
Evaluasi
Selasa, 26 Januari 2016 (13.45 WIB)
S: Klien
mengatakan tadi pagi diberikan obat dulcolax, klien mengatakan sudah BAB
1x/hari, klien mengatakan fesesnya cair dan berwarna hitam.
O: Bising
usus klien 5x/menit, klien terlihat minum air hangat sebanyak 1 gelas
A: Tujuan
belum tercapai, masalah gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan menurunnya mobilitas
intestinal
P: Lanjutkan
inervensi 1-6
Rabu,
27 januari 2016 (12.45 WIB)
S: Klien
mengatakan setiap pagi diberikan obat dulcolax, klein mengatakan setiap
diberikan dulcolax bisa BAB.
O: Klien
terlihat minum jus pir, bising usus klien meningkat 7x/menit.
A: Tujuan
belum tercapai, masalah gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan menurunnya
mobilitas intestinal belum teratasi
P: Lanjutkan
intervensi 1-6
Kamis,
28 januari 2016 (13.00 WIB)
S: Klien
mengatakan perutnya masih terasa kembung, klien mengatakan masih diberikan obat
dulcolax.
O: Perut
klien teraba keras, bising usus klien 9x/menit, klien terlihat dalam posisi
semi fowler.
A: Tujuan
tercapai sebagaian, masalah gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan
menurunnya mobilitas intestinal teratasi sebagaian
P: Pertahankan
intervensi 1-5, lanjutkan intervensi 6
BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah
penulis melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Tn. D dengan Ileus Paralitik di
ruang Bedah Non Infeksi Lantai 12 blok D di Rumah Sakit Umum Daerah Koja
Jakarta Utara dari tanggal 25 januari 2016 sampai 28 Januari 2016 maka penulis akan
membahas kesenjangan antara teori dan kasus berdasarkan proses keperawatan
yaitu pengkajian, diagnosa, perencanaaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
A.
Pengkajian
Pengkajian merupakan
tahap awal dari proses keperawatan yang dilakukan dimana penulis berusaha mengkaji
klien secara menyeluruh melalui aspek bio-psiko-sosial dan spiritual. Hasil
pengkajian berupa data dasar, data khusus, data penunjang, pemeriksaan fisik,
membaca catatan medik dan catatan keperawatan.
Pada pengkajian teori
dan kasus tidak terjadi kesenjangan dimana pada teori etiologi dari ileus
paralitik adalah adanya faktor dari kebiasaan hidup yang kurang baik yaitu yang
berasal dari faktor eksternal seperti yang ditemukan pada kasus Tn. D.
Pada teori dan kasus
tidak terjadi kesenjangan pada tanda dan gejala yang muncul. Tanda dan gejala
yang didapatkan pada teori yaitu adanya ketegangan pada daerah perut oleh
cairan dan gas. Gejala lain yang sering dikeluhkan pasien adalah nyeri pada
daerah perut kiri bawah seperti ditusuk-tusuk dan sulit untuk BAB. Sementara
pada kasus Tn. D tanda gejala yang ditemukan lemas, sulit BAB, perut terasa
kembung, nyeri pada perut daerah kiri bawah seperti dituuk -tusuk.
Umumnya penatalaksanaan
yang dilakukan pada klien sudah sesuai dengan teori tetapi klien masih perlu
diberikan pengetahuan tentang pengaturan diet, olahraga dan terapi obat lainnya
yaitu dulcolax setiap pagi untuk membantu pengeluaran feses serta meropenem
sebagai antibiotik.
Selanjutnya pada teori
dan kasus terdapat kesenjangan dalam pemeriksaan diagnostik dimana pada teori
pemeriksaan yang dilakukan adalah laboratorium, rontgen abdomen, sigmoidescopy,
colonoscopy, radiogram barium, dan elektrolit karena melihhat kondisi pasien
yang belum pada tahap lebih lanjut, sehingga pemeriksaan hematologi dan
elektrolit sudah menunjukkan pasien tersebut menderita penyakit ileus
paralitik.
Faktor pendukung saat
melakukan pengkajian adalah tersedianya fortmat pengkajian, terjalinnya
komunikasi yang terpeutik, terjalinnya hubungan yang baik antara perawat,
pasien, dan keluarga, dan juga fasilitas alat dirumah sakit juga mendukung atau
memadai. Dan secara umum tidak terdapat faktor penghambat dalam melakukan pengkajian.
B.
Diagnosa
Keperawatan
Pada diagosa
keperawatan terdapat kesenjangan antara teori dan kasus pada teori ada 4
diagnosa yaitu diagnosa pertama: kekurangan volume cairan berhubungan dengan
mual, muntah, demam dan atau diforesis. Diagnosa kedua: nyeri berhubungan
dengan distensi, kekakuan. Diagnosa ketiga: ketidak efektifan pola nafas
berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan. Diagnosa keempat:
ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan.
Sedangkan pada kasus Tn.
D terdapat 4 diagnosa dimana dua diantaranya terdapat diagnosa yang sama dengan
teori yaitu kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat (mual, muntah, demam), nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Sementara dua diagnosa yang berbeda dengan teori yaitu peningkatan suhu tubuh
berhubungan dengan proses penyakit, gangguan eliminasi fekal (konstipasi)
berhubungan dengan menurunnya mobilitas intestinal. Dimana munculnya diagnosa
ini dikarenakan kondisi klien yang sulit untuk BAB yang disebabkan karena
ketegangan pada daerah perut. Hal itu ditandai pula dengan klien hanya bisa BAB
setelah diberikan obat yal (dulcolax).
Diteori ada 2 diagnosa
keperawatan yang tidak ditemukan pada kasus yaitu ketidak efektifan pola nafas
berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan. Hal ini dikarenakan
klien tidak ada keluhan mengenai pernafasan dan tidak ditemukan tanda-tanda
yang abnormal pada saat pengkajian. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi
dan perubahan status kesehatan. Hal ini dikarenakan klien tidak ada keluhan
mengenai kecemasan ataupun menunjukkan sikap yang cemas pada saat pengkajian.
Faktor pendukung dalam
menentukan diagnosa keperawatan adalah data yang terkumpul lengkap, dan
tersedianya buku referensi. Sementara secara umum faktor penghambat tidak
ditemukan.
C.
Perencanaan
Keperawatan
Pada penetapan
prioritas diagnosa keperawatan terdapat kesenjangan pada teori dan kasus. Pada
teori prioritas diagnosa pertama adalah kekurangan volume cairan berhubungan
dengan mual, muntah, demam dan atau diforesis. Sedangkan pada kasus Tn. D
prioritas diagnosanya adalah peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses
penyakit. Hal ini dikarenakan terjadinya peningkatan suhu tubuh (suhu tubuh
klien 38,5˚C) tubuh klien teraba panas, didukung juga oleh hasil lab klien pada
leukosit yang turun. Sementara untuk diagnosa kedua kelompok mengangkat
diagnosa keperawatan yaitu nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. Hal ini
dikarenakan klen merasakan nyeri di bagian perut kiri bawah dan rasa nyerinya
seperti ditusuk-tusuk. Seanjutnya pada diagnosa ketiga yaitu gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat. Hal ini dikarekan peningkatan output balance
cairan -36 intake 1000 ml (minum 500 dan parenteral 500). Sedangkan output 1000
ml (urien 700, keringat 100, BAB 200, IWL 36 ml). Selanjutnya pada diagnosa
keempat yaitu gangguan eliminasi fekal (konstipassi) berhubungan dengan
menurunnya mobilitas intestinal. Hal ini dikarenakan pada klien Tn.D mengeluh
sulit untuk BAB, dan klien hanya bisa BAB setelah diberikan obat yal
(dulcolax).
Pada tujuan perencanan
keperawatan secara umum antara teori dan kasus sudah sesuai tetapi kelompok
menetapkan waktu 3x24 jam untuk memudahkan dalam melakukan evaluasi, selain itu
juga sesuai dengan waktu pemberian asuhan keperawatan.
Pada kriteria hasil
secara umum dikasus sesuai sudah sesuai dengan teori, dimana perumusan kriteria
hasil sesuai dengan metode SMART (spesifik, measurable, actable, realita, time
limited) yaitu secara spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, sesuai teori
(kenyataan), dan batas waktu dalam pelaksanaan keperawatan, tetapi hal ini
disesuaikan juga dengan kondisi pasien.
Sementara pada
perencanaan tindakan keperawatan secara umum pada teori dan kasus sudah sesuai.
Faktor pendukung
perencanaan dari tindakan keperawatan adalah adanya fasilitas ruangan yang
memadai, sementara secara umum tidak ada faktor penghambat.
D.
Pelaksanaan
Keperawatan
Secara umum pelaksanaan
tindakan keperawatan sudah dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah disusun
kemudian disesuaikan dengan keadaan atau kondisi klien. Dimana dalam
pelaksanaan penulis bekerjasama dengan perawat ruangan dalam melaksanakan
tindakan keperawatan.
Faktor pendukung dari
keperawatan adalah adanya kerjasama yang baik antara klien, keluarga klien,
penulis dan perawat ruangan dalam melakukan tindakan keperawatan dan juga
fasilitas di ruangan yang memadai.
E.
Evaluasi
Keperawatan
Evaluasi keperawatan
adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil
akhir dari semua tindakan keperawatan yang telah diberikan. Evaluasi yang
dilakukan penulis berdasarkan kondisi klien dan dibuat sesuai masalah yang ada
dalam evaluasi yaitu dengan menggunakan SOAP (subyektif, obyektif, analisa, dan
perencanaan).
Dari 4 diagnosa
keperawatan penulis temukan pada kasus, 3 diagnosa teratasi dan 1 diagnosa
teratasi sebagian. Diagnosa keeprawatan yang sudah teratasi yaitu peningkatan
suhu tubuh, nyeri, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari
kebutuhan tubuh. 1 diagnosa yang teratasi sebagian yaitu diagnosa gangguan
eliminasi fekal (konstipasi).
Faktor pendukung dari
evaluasi keperawatan adalah perkembangan pasien berupa pasien kooperatif,
bertambahnya pengetahuan tentang penyakit klien. Sedangkan secara umum tidak
ada faktor penghambat dalam mengevaluasi keperawatan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah
penulis memebahas bab demi bab (Bab I sampai IV) secara keseluruhan mengenai
Asuhan Keperawatan pada Tn.D Dengan
Ileus paralitik baik dari segi tinjauan teoritis maupun kasus, maka bab V
penulis dapat menarik kesimpulan dan saran sebagai berikut :
Pada
tahap pengkajian klien dengan Ileus paralitik secara umum sesuai antara teori
dan kasus. Ada 4 diagnosa yaitu: peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
proses penyakit, nyeri berhubungan dengan distensi abdomen, gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat, gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan
menurunnya mobilitas intestinal.
Dari
4 diagnosa yang ditegakan dan hasil evaluasi tanggal 26 januari 2016 di dapatkan
evaluasi untuk yaitu : peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses
penyakit masalah teratasi di tandai dengan klien sudah tidak panas lagi,
tanggal 27 januari 2016 di dapatkan evaluasi untuk yaitu : nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
masalah teratasi di tandai dengan klien mengatakan nyerinya sudah berkurang,
tanggal 28 januari 2016 di dapatkan evaluasi untuk yaitu : gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
masalah teratasi sebagian di tandai dengan klien mengatakan minumnya sudah
mulai banyak, tanggal 28 januari 2016 di dapatkan evaluasi untuk yaitu : gangguan
eliminasi fekal berhubungan dengan menurunnya mobilitas intestinal masalah
belum teratasi dilanjutkan oleh perawat lain di tandai dengan klien mengatakan
perutnya masih terasa kembung.
B. Saran
Sesuai
dengan kesimpulan diatas maka kelompok memberikan saran sebagai berikut :
1. Untuk Klien
dan Keluarga
Meningkatkan
pada klien dan keluarga agar tidak makan sembarangan dan mencuci tangan sebelum
makan, dan makan makanan yang bergizi dan setelah pulang kontrol dan minumobat
sesuai dengan aturan.
2. Untuk Perawat
Perawat
diharapkan dapat melakukan Asuhan Keperawatan dan dokumentasi keperawatan yang
lebih akurat dan lengkap sesuai dengan
keadaan klien guna mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang perkembangan
kondisi klien serta tindakan yang telah dilakukan terhadap Klien dan menindak
lanjyt masalah yang belum teratasi.
3. Untuk
Mahasiswa
Mahasiswa
diharyuskan untuk lebih memahami teori tentang asuha keperawatan pada Klien
dengan Ileus paralitik sehingga mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada
klien dengan Ileus paralitik.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth.2001. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 vol 2.
Jakarta:
EGC
Effendi, Nasrul. 1998.
Dasar Keperawatan Edisi 2. Jakarta: EGC
Hariana, Drs H. Arif. 2005. Resep Mengobati Penyakit Swadaya: EGC







Tidak ada komentar:
Posting Komentar