Selasa, 23 Februari 2016

Perubahan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Dispagia, Rasa Tidak Enak Setelah Makan, Anoreksia, Kehilangan Permukaan Absorpsi dari Usus


Sistem Pencernaan
Perubahan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Dispagia, Rasa Tidak Enak Setelah Makan, Anoreksia, Kehilangan Permukaan Absorpsi dari Usus
Description: E:\LEMBAR KOMSUL\DATA IKM\LOGO\FILE00010.png
Disusun Oleh Kelompok 1:
Afita Naroyanti             (14001)
Nurul Ibnu Fajar            (14023)
Ratna Budi Sari             (14026)
Rita Widiyastuti             (14027)
Yolanda Anggi Kusuma (14042)

AKADEMI KEPERAWATAN HARUM JAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2015
A.    Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan disfagia.
Intervensi Keperawatan
1.      Kaji kemampuan menelan klien.
2.      Anjurkan makan dengan porsi sedikit tetapi sering.
3.      Berikan latihan dan awasi klien untuk mengunyah makanan dengan baik, makan dan menelan dengan perlahan.
4.      Atur posisi klien untuk duduk selama dan sesudah makan serta anjurkan seterusnya setiap kali makan.
5.      Hindarkan makanan dengan suhu ekstrim (terlalu panas atau dingin).
6.      Ukur intake dan output kalori dan cairan.
7.      Kurangi rasa nyeri dengan memberikan obat analgesic cair topical sebelum makan untuk menurunkan disfagia (± 10-15 menit).
8.      Usahakan masukan cairan 2500 ml/24 jam bila tidak dikontraindikasikan.
9.      Anjurkan makanan tinggi serat bila ditoleransi untuk membantu proses eliminasi.
10.  Pantau JDL dan elektrolit.
11.  Timbang berat badan klien setiap hari (pada waktu yang sama dengan menggunakan pakaian dan timbangan yang sama).
Evaluasi
1.      Klien menunjukkan intake atau masukan kalori dan cairan yang optimal.
2.      Klien menunjukkan elektrolit dalam batas normal (DBN).
3.      Klien mempertahankan berat badan.




B.     Gangguan pemenuhan nutrisi yang berhubungan dengan rasa tidak nyaman setelah makan, aroreksia.
Intervensi
1.      Kaji kebutuhan dan status nutrisi klien; diet, pola makan, makanan yang menjadi pencetus, rasa sakit.
2.      Kaji riwayat terapi pengobatan klien; vasopressin, aspirin, dan steroid.
3.      Observasi dan catat tanda-tanda vital setiap 4 jam.
4.      Observasi dan catat intake dan output cairan setiap 8 jam.
5.      Pertahankan lingkungan tanpa stress.
6.      Berikan diet dalam porsi sedikit tapi sering.
7.      Evaluasi efektivitas dan efek samping pengobatan yang telah diberikan.
8.      Kolaborasi dengan ahli diet untuk menetapkan komposisi dan jenis diet yang tepat.
Evaluasi
1.      Klien dapat menoleransi diet dalam keadaan rasa nyaman.
2.      Klien dapat mempertahankan kseimbangan intake dan output sesuai anjuran diet.
3.      Merencanakan diet dengan kandungan nutrisi yang adekuat untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energy dan kalori sehubungan dengan status hipermetabolik pasien.

C.    Gangguan kebutuhan nutrisi yang berhubungan dengan gangguan pengiriman, transit, dan adanya obstruksi dari usus.
Intervensi
1.      Kaji kemampuan pasien dalam menalan, catat setiap gangguan fisik atau keluhan dalam proses menelan
2.      Indentefikasi faktor predisposisi penyebab disfagia
3.      Observasi intake nutrisi pasien dan kaji hal-hal yang menghambat atau mempersulit proses menelan
4.       simulasi bibir untuk membuka dan menutup mulut secara manual dengan menekan ringan bagian atas bibir atau dibawah dagu.
5.       Sentuh bagian pipi paling dalam dengan spatel untuk mengetahui adanya kelemahan lidah.
6.      Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan.
7.      Kalaborasi dengan ahli gizi tentang jenis diet yang sesuai dengan kondisi individu
Evaluasi
1.      Pasien yang mengalami disfagia dapat terjadi pada fase oral, fase faringeal, dan fase esofagial, pengenalan yang baik pada gangguan setiap fase dapat menjadi data dasar intervensi keperawatan selanjutnya.
2.      Disfagia bisa disebabkan oleh gangguan kerja syaraf seperti pada penyakit parkinso, disfungsi otot seperti pada pascastroke, desakan massa tumor, maupun gangguan anatomi dari seluruh pencernaan bagian atas dapat menyebabkan terjadinya gangguan prosos menelan.
3.      Intervensi dalam mengevaluasi faktor yang memperberat kondisi menelan dan sebagai bahan tambahan untuk intervensi selanjutnya.
4.      Membantu melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskular.
5.      Meningkatkan gerak dan kontrol lidah, serta menghambat jatuhnya lidah.
6.      Menjadi intervensi positif dengan dukungan motivasi untuk meningkatkan kemampuan menelan.
7.      Kondisi disfagia bisa disebabkan oleh kondsisi multifactor. Pemebrian diet dengan kalaborasi bersama ahli gizi dapat memaksimalkan dalam pemenuhan kubutuhan nutrisi pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika
Priyanto, Agus. 2008. Endoskopi Gastrointestinal. Jakarta: Salemba Medika
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &  Suddath. Jakarta: EGC.

2 komentar:

  1. https://inteversikejururawatanmalay.blogspot.my/2018/01/gangguan-nutrisi-kurang-dari-keperluan.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. https://inteversikejururawatanmalay.blogspot.my/?m=1

      Hapus