Sistem Pencernaan
Perubahan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Dispagia, Rasa Tidak Enak Setelah Makan,
Anoreksia, Kehilangan Permukaan Absorpsi dari Usus

Disusun Oleh Kelompok 1:
Afita
Naroyanti (14001)
Nurul
Ibnu Fajar (14023)
Ratna
Budi Sari (14026)
Rita
Widiyastuti (14027)
Yolanda
Anggi Kusuma (14042)
AKADEMI KEPERAWATAN HARUM JAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2015
A. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan disfagia.
Intervensi
Keperawatan
1. Kaji
kemampuan menelan klien.
2. Anjurkan
makan dengan porsi sedikit tetapi sering.
3. Berikan
latihan dan awasi klien untuk mengunyah makanan dengan baik, makan dan menelan
dengan perlahan.
4. Atur
posisi klien untuk duduk selama dan sesudah makan serta anjurkan seterusnya
setiap kali makan.
5. Hindarkan
makanan dengan suhu ekstrim (terlalu panas atau dingin).
6. Ukur
intake dan output kalori dan cairan.
7. Kurangi
rasa nyeri dengan memberikan obat analgesic cair topical sebelum makan untuk
menurunkan disfagia (± 10-15 menit).
8. Usahakan
masukan cairan 2500 ml/24 jam bila tidak dikontraindikasikan.
9. Anjurkan
makanan tinggi serat bila ditoleransi untuk membantu proses eliminasi.
10. Pantau
JDL dan elektrolit.
11. Timbang
berat badan klien setiap hari (pada waktu yang sama dengan menggunakan pakaian
dan timbangan yang sama).
Evaluasi
1. Klien
menunjukkan intake atau masukan kalori dan cairan yang optimal.
2. Klien
menunjukkan elektrolit dalam batas normal (DBN).
3. Klien
mempertahankan berat badan.
B. Gangguan pemenuhan nutrisi yang
berhubungan dengan rasa tidak nyaman setelah makan, aroreksia.
Intervensi
1. Kaji
kebutuhan dan status nutrisi klien; diet, pola makan, makanan yang menjadi
pencetus, rasa sakit.
2. Kaji
riwayat terapi pengobatan klien; vasopressin, aspirin, dan steroid.
3. Observasi
dan catat tanda-tanda vital setiap 4 jam.
4. Observasi
dan catat intake dan output cairan setiap 8 jam.
5. Pertahankan
lingkungan tanpa stress.
6. Berikan
diet dalam porsi sedikit tapi sering.
7. Evaluasi
efektivitas dan efek samping pengobatan yang telah diberikan.
8. Kolaborasi
dengan ahli diet untuk menetapkan komposisi dan jenis diet yang tepat.
Evaluasi
1. Klien
dapat menoleransi diet dalam keadaan rasa nyaman.
2. Klien
dapat mempertahankan kseimbangan intake dan output sesuai anjuran diet.
3. Merencanakan
diet dengan kandungan nutrisi yang adekuat untuk memenuhi peningkatan kebutuhan
energy dan kalori sehubungan dengan status hipermetabolik pasien.
C.
Gangguan
kebutuhan nutrisi yang berhubungan dengan gangguan pengiriman, transit, dan
adanya obstruksi dari usus.
Intervensi
1.
Kaji kemampuan pasien dalam menalan,
catat setiap gangguan fisik atau keluhan dalam proses menelan
2.
Indentefikasi faktor predisposisi
penyebab disfagia
3.
Observasi intake nutrisi pasien dan kaji
hal-hal yang menghambat atau mempersulit proses menelan
4.
simulasi
bibir untuk membuka dan menutup mulut secara manual dengan menekan ringan
bagian atas bibir atau dibawah dagu.
5.
Sentuh bagian pipi paling dalam dengan spatel
untuk mengetahui adanya kelemahan lidah.
6.
Anjurkan untuk berpartisipasi dalam
program latihan.
7. Kalaborasi
dengan ahli gizi tentang jenis diet yang sesuai dengan kondisi individu
Evaluasi
1. Pasien
yang mengalami disfagia dapat terjadi pada fase oral, fase faringeal, dan fase
esofagial, pengenalan yang baik pada gangguan setiap fase dapat menjadi data
dasar intervensi keperawatan selanjutnya.
2. Disfagia
bisa disebabkan oleh gangguan kerja syaraf seperti pada penyakit parkinso,
disfungsi otot seperti pada pascastroke, desakan massa tumor, maupun gangguan
anatomi dari seluruh pencernaan bagian atas dapat menyebabkan terjadinya
gangguan prosos menelan.
3. Intervensi
dalam mengevaluasi faktor yang memperberat kondisi menelan dan sebagai bahan
tambahan untuk intervensi selanjutnya.
4. Membantu
melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskular.
5. Meningkatkan
gerak dan kontrol lidah, serta menghambat jatuhnya lidah.
6. Menjadi
intervensi positif dengan dukungan motivasi untuk meningkatkan kemampuan
menelan.
7. Kondisi
disfagia bisa disebabkan oleh kondsisi multifactor. Pemebrian diet dengan
kalaborasi bersama ahli gizi dapat memaksimalkan dalam pemenuhan kubutuhan
nutrisi pasien.
DAFTAR
PUSTAKA
Muttaqin,
Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal
Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika
Priyanto, Agus. 2008. Endoskopi Gastrointestinal. Jakarta: Salemba Medika
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddath. Jakarta: EGC.
https://inteversikejururawatanmalay.blogspot.my/2018/01/gangguan-nutrisi-kurang-dari-keperluan.html
BalasHapushttps://inteversikejururawatanmalay.blogspot.my/?m=1
Hapus